Kakamaran

 Bagi beberapa teman saya, toilet adalah tempat terbaik untuk berkontemplasi ria. Tapi bagi saya, lokasi menarik justru ada di kamar. Tempat saya berbagi segalanya, kecuali uang tentunya.

Menyoroti kamar tentu tidak bisa lepas dari peran kasur yang begitu mulia. Kalau sedih diputus pacar, langsung saja nyungsep ke kasur seperti adegan film '80-an. Di mana lagi bisa segaring itu kalo bukan di kasur. Di mana lagi bisa berbuat yang gila-gila kalo bukan di kamar. Janganlah anda khawatir akan ketahuan karena kasur dan kamar adalah penjaga rahasia terbaik. Itulah sebabnya kamar jadi begitu istimewa bagi saya.

Hingga suatu hari atap kamar saya bocor. Air matanya menetes satu-satu dari plafon. Saya sedih sekali. Eugene, sahabat saya, terus mengingatkan kalau itu air hujan, bukan air mata. Tapi saya keukeuh. Dia tidak mengerti kalau air mata kamar saya adalah pertanda. Dia tidak tahu kalau peristiwa itu membuat kepala saya terus-menerus memutar sebuah film karya Neil Jordan berjudul We're No Angels (1989). Mengganggu sekali.

Kalau kalian menyaksikan We're No Angels, kalian akan melihat adegan patung Bunda Maria menangis. Tetesan airnya sebenarnya berasal dari atap gereja yang bocor, tapi warga menganggapnya sebagai keajaiban, mungkin termasuk saya kalau saya ada di sana. Pembenaran saya: Hei, lagipula kalau pun atap itu bocor, kok bisa pas banget kena ke mata patung Bunda Maria. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?

Memang saya termasuk orang yang percaya tanda-tanda. Bahwa semua kejadian dirancang sedemikian rupa untuk berarti sesuatu. Seperti di film We're No Angels, hal yang sifatnya kebetulan, nyatanya bisa membuat perubahan. Seperti ketika anak Molly yang tiba-tiba bisa bicara karena beberapa kejadian biasa-biasa saja. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?
Mirip dengan kejadian menangisnya kamar saya, tentu saya menganggap hal itu bukan kebetulan semata. Makanya saya tidak mendengarkan kicauan Eugene yang menyuruh saya melupakan semua pertanda, dan menganggap bocornya kamar saya tidak lain hanyalah kebetulan semata. Enak aja tuh kepiting!

Saya percaya ada pesan yang ingin disampaikan kamar saya, entah apa itu.

Lalu saya mulai memperhatikan seluruh kamar. Temboknya sengaja saya cat hitam untuk menampung semua kesedihan saya. Lantainya berantakan dipenuhi kemarahan yang selalu saya buang sembarangan. Seluruh permukaannya kelihatan kumuh akibat keluhan yang selalu saya teriakkan. Kalau dikalimatkan secara kasar: kamar saya adalah tempat sampah saya. Pantas saja dia menangis.

Selanjutnya saya mulai mencari solusi untuk membuat kamar saya berhenti menangis. Apa kamar saya perlu disapu, lalu diceritakan dongeng lucu? Males euy. Atau saya kurangi bebannya dengan tidak menceritakan tetek bengek kahirupan lagi? Waduh, berhenti bercerita pada kamar rasanya seperti melepaskan dinding di kamar itu. Menelanjangi ruang pribadi saya.

Man, membuat kamar saya berhenti menangis ternyata pekerjaan yang sangat berat.

Singkat cerita pagi itu kepala saya jadi pusing. Acara nonton infotainment terganggu karena saya sibuk mencari celah, bagaimana bisa tetap berkeluh kesah tanpa membuat kamar saya bersedih. Saya nyaris buntu. Untung saja siangnya Eugene gatel, lalu naik ke atap. Dari sana saya mengetahui kalau kucing menggeser genteng kamar saya, makanya atapnya jadi bocor. Hmm... rasanya kok logis ya, tidak ada unsur tanda-tanda sama sekali. Mungkin saya memang terlalu berlebihan.

Jadi, itu kebetulan atau bukan? Hayoo...


In Your Room
Where souls disappear
Only you exist here
-in your room, depeche mode-