Loncat-Loncat

Saya sempat berpikir untuk mengganti tanda tangan. Mau tau kenapa? Saya akan ceritakan kejadiannya dengan peristiwa yang tidak persis sama. Maksudnya supaya terasa fenomenal dan kesannya hidup saya tidak terlalu cupu. Jadi maaf kalau ada pihak yang kurang berkenan karena lagi-lagi saya membual. Begini ceritanya...

Hari itu cuaca agak mendung di Ibukota. Saya sedang asyik menggigit gorengan yang masih mengebul asapnya. Polusi udara Jakarta terasa segar, suasana begitu nyaman. Tiba-tiba seorang Bapak muncul dari sela-sela sebuah gerobak sampah. Dia menunjukkan selembar kertas dan bertanya, "Tanda tangan siapa ini?" Kontan saya berhenti mengunyah karena sadar bahwa itu tanda tangan saya. Saya teriak, "Punya saya," saya jawab sambil memuncratkan tahu isi yang kebetulan masih memenuhi mulut saya. Lalu Bapak itu bilang, "Hidup kamu terlalu seenak udel. Itu tidak baik, apalagi kamu perempuan."

Buset tuh orang, hari gini masih bicara soal "perempuan". Menghindari obrolan panjang, saya manggut-manggut saja. Setelah itu si Bapak langsung kembali ke balik gerobak sampah, kemudian berjalan menuju istri dan anaknya dan menghilang di balik tikungan.

Awalnya saya tidak peduli sama sekali dengan Sang Bapak yang misterius, tapi dia bawa-bawa kata "perempuan". Makanya saya jadi bete. Yah, dengan terpaksa saya kembali mereview hidup saya dan berpikir, "Emangnya salah kalo udel saya bebas?"

Masalahnya begini, saya percaya sekali dengan apa yang pernah dikatakan Virginia Woolf. Katanya, It is fatal to be a man or woman pure and simple: one must be a woman manly, or a man womanly. Perempuan yang dulu identik dengan urusan domestik sekarang banyak yang bekerja, yang dulu dianggap wilayah laki-laki. Termasuk saya yang ngantor supaya bisa makan. Sebaliknya, laki-laki yang kesannya dingin, makin dituntut untuk ikut andil dalam wilayah domestik atau setidaknya sedikit punya hati supaya gak kaku-kaku amat. Dengan kata lain, laki-laki sekarang dituntut untuk ikut menjelajahi wilayah perempuan. Jadi aturan pembedaan cowok-cewek kayaknya kok basi banget ya?

Tapi hari itu saya salah karena saya perempuan.

Saya pikir lagi, jangan-jangan emang saya salah? Emang sih hidup saya ternyata tidak punya aturan baku, kecuali prinsip "tidak menyusahkan orang lain" yang selalu saya dewakan selama ini. Lalu kalo saya dituntut jadi istri apalagi ibu, sepertinya bakalan ancur. Waduh, apa emang saya salah? Tapi harus gimana? Mengubah sifat rasanya sulit. Ya sudah saya ganti saja tanda tangan, tampaknya lebih mudah.

Saya langsung meminjam bolpen tukang gorengan dan mulai mereka-reka tanda tangan yang keren, namun tidak berkesan seenak udel. Satu jam. Dua jam. Sepuluh jam. Belum juga ketemu. Tukang gorengan sudah pergi, merelakan bolpennya jadi milik saya. Saya mulai bosan dan hampir menyerah.
Di saat genting seperti itu, seorang perempuan berkacamata datang dan langsung memegang telapak tangan saya. Tak lama kemudian perempuan itu mulai membaca garis tangan saya.

Dia bilang, "Kalau kamu sampai menikah, kamu tidak akan menikahi soulmate kamu."

APAAA??? Masa saya harus nikah sama seseorang yang bukan soulmate saya? No way!

Ini adalah isu yang lebih penting daripada hidup seenak udel sebagai perempuan. Spontan saya langsung melempar bolpen. Buru-buru cari pinjaman pisau untuk mengubah garis tangan saya.


I am the wind,
I am the sea,
I am the sun
I could be anyone
- use the force, jamiroquai -