Crazy Happy People

Dua tahun yang lalu saya sempat berpikir, berapa besar penderitaan yang diperlukan orang Indonesia untuk membuat hidup kita lebih kreatif? Saya bukannya bilang orang Indonesia gak kreatif sih, tapi kok "produk" asli Indonesia tidak banyak yang diakui secara global dan mendunia. Deuh bahasanya jadi formal pisan.

Mungkin saya cuma liat hasilnya dalam tataran populer aja ya. Karena "produk" Indonesia paling mendunia saat ini, menurut saya cuma ANGGUN. Selain itu... hmmm, woman trafficking kayaknya. Yah, ini sih ga bisa diitung. Trus kenapa kok cuma Anggun? Padahal kita punya lebih dari 200 juta kepala, dan banyak yang menderita.

Lho, apa hubungannya ama penderitaan?

Begini hubungannya: Saya belajar kalau beberapa pergerakan penting (atau kejeniusan tertentu) kayaknya bermula dari penderitaan. Kalau dulu (orang) Inggris gak depresi, maybe Johnny Rotten won't get pissed, dan gak akan ada Sex Pistol. Mungkin lho.

Atau kalau Amerika gak pernah nekat mengumandangkan perang Vietnam. Mungkin para pemuda gak akan ngamuk disuruh pergi perang, dan mungkin gak akan ada flower generation, atau karya yang lebih idealis buat The Beatles, John Lennon, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, ini cuma mungkin lho.

Yang jelas, saya berpikir penderitaan menciptakan keadaan terdesak, kemarahan, depresi, dan kegilaan. Orang-orang tertentu yang ikut menyaksikan dan merasakan, biasanya ikut-ikutan gila. Lalu mereka menuangkannya dalam suatu bentuk kreatifitas tertentu.

Sebenarnya memang ada Pramoedya Ananta Toer, yang cukup terganggu dengan keadaan bangsa, lalu menulis banyak karya monumental. Atau (buat saya) Djoko Pekik, yang pekik amarahnya mengejawantah jadi lukisan edan. Namun berapa banyak orang-orang seperti mereka di sini? Terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penderitaan yang ada. Pusing deh kalo dipikirin.

Sampai suatu hari saya berjalan di tengah coakan trotoar jalan dago. Niatnya mau ngeceng di BIP. Cuman gara-gara duit tinggal 2 ribu, saya terpaksa jalan kaki karena uangnya kurang buat naik angkot. Sambil melatih siulan, saya melenggang sambil senyum-senyum sendiri. Namun tiba-tiba di tengah jalan, saya melihat pemandangan yang bikin saya shock. Saya lihat seorang Bapak, sepertinya pemulung, makan dari tempat sampah sebuah rumah gedongan. Maaaakkkk. Ya, mungkin makanan itu belum basi, tapi itu tetap sampah. Saya langsung panik. Kalau saja saya punya uang agak banyak, mungkin bakal saya traktir Bapak itu makan warteg, atau apapun yang dia mau deh. Tapi dasar nasib duit cuma 2 ribu. Dalam kebingungan, saya berikan saja duit itu.

Lalu saya berpikir. Dengan besarnya penderitaan yang dialami Bapak itu, bukankah karya besar seharusnya sudah tercipta dari tangannya? Ah, Bapak itu sudah pusing sama hidupnya, gimana mau bikin karya. Kalau begitu, tanggung jawab itu jatuh ke tangan saya. Saya menyaksikan, merasakan, ikut marah, ikut terganggu. Jadi seharusnya saya bisa bikin karya.

Saya batalkan rencana ngeceng, lalu mulai menulis dalam suasana penuh emosi. Namun setelah mencorat-coret sumpah serapah terhadap masalah bangsa selama 24 jam, ternyata tidak ada tulisan yang tercipta. Kata-kata saya rasanya dihabisi oleh rasa mual yang tidak bisa hilang. Lalu saya kembali berusaha selama sebulan. Tidak juga keluar. Saya bisa memulai kalimat, namun tidak bisa mengakhirinya. Lama-lama, saya mulai kehilangan rasa. Saya pikir, ah kejadian seperti itu pastinya banyak terjadi di sini. Kita ini manusia. Wajar kalo dikasih cobaan sama Tuhan. Kalau kita nrimo, mungkin Tuhan bisa kasih jalan. Menulis kekecewaan itu artinya ngoyo, tidak ikhlas. Tuhan tidak suka. Saya pun berhenti terganggu, dan akibatnya berhenti menulis. Apa yang mau ditulis kalau saya tidak terganggu?

Setelah tidak menulis selama 1 tahun 9 bulan, baru saya mendapat pelajaran dari semua peristiwa itu. Bahwa sepertinya, banyak orang Indonesia, memang tidak mudah menderita (mungkin karena sudah terlalu sering ditekan). Bagitu banyak cobaan sudah terjadi, namun kita masih tenang-tenang saja. Yang terkena bencana diharapkan mengambil hikmah dari setiap ujian. Yang tidak terkena, seperti saya, lama-lama mati rasa juga. Entah malas peduli, atau kebingungan sendiri. Kalau mau prihatin, lebih baik diam dan berdoa. Jangan berani-berani membalas, nanti kamu kena gilas.

Prinsip diam itu yang membuat kita tidak terganggu untuk membuat karya yang menggigit. Seperti nasehat Bapak di kampung dulu, ojo cedak-cedak kebo bupak. Karya kritis seperti yang dibuat Pram bagaikan kebo bupak yang seharusnya dihindari. Lebih baik diam dan berdoa. Kalau pun susah, ya dibuat senang saja. Kalau pun sedih, ya tertawa saja.


We're crazy happy people.
That's it!


When I fall into comberan
my face dirty and blepotan
When I nyangsang di tiang jemuran
never mind because I can gelantungan
Yeyeyeaaah...
I'm superman baby
-superman, benyamin sueb-