Tragedi Putar

Bulan lalu saya diajak Ibu pergi ke Ancol, tentu saja lihat komedi putar. Entah dapat angin dari mana tau-taunya saya berpikir, hmmm... KOMEDI putar. Apa lucunya sampe dikasih nama komedi? Mungkin karena bisa membuat anak kecil bahagia ketika berputar di atasnya.

Bener gak? Bisa jadi.

Kemudian saya kembali berjalan, tiba-tiba saya lihat ada anak kecil nangis di atas komedi putar. Lho namanya komedi kok malah nangis, kalau nangis kan Tragedi namanya. Eits, jangan-jangan emang itu Tragedi Putar. Lucu juga kan. Abisnya saya pernah dengar kalau komedi memang begitu dekat dengan tragedi, seperti dua sisi keping mata uang. Jadi jangan-jangan, Komedi putar dan Tragedi putar adalah keping mata uang yang sama. Dan supaya wahananya laku, jadi kasih nama Komedi Putar saja.

Waaahhh, perjalanan Ancol saya kali ini pun rasanya jadi lebih filosofis. Sok-sokan mencari filosofi di balik komedi dan tragedi. Lalu sambil naik kora-kora saya berpikir, mengulang semua cerita komedi yang pernah saya tonton. Ternyata saya mendapat pencerahan... Hmmm... Komedi dan Tragedi itu sepertinya cerita yang sama. Kisah tragedi yang kita tertawakan, itulah komedi. Lihat saja Srimulat. Kepeleset, kecolok bolpen, ketahuan kurang ajar sama majikan, tiba-tiba muncul hantu di dalam rumah. Hey! Itu semua tragedi. Bayangkan kalau kejadian itu kamu alami sendiri. Tragedi kan?

Trus kalau mereka sama, berarti nasib orang-orang yang gemar sok melucu keliatan jadi tragis dong? Oh nanti dulu... Ternyata Tragedi dan Komedi itu bisa dibedakan. Kalau menurut film Stranger Than Fiction (2006), beda komedi dan tragedi itu ada pada endingnya. Kalau di Komedi, tokohnya akan dijodohkan. Kalau di tragedi, sang tokoh akan mati. Intinya mah, tergantung endingnya, seneng atau sedih.

Sambil naik tornado saya mulai mereview ulang hidup saya. Kadang ada komedi, kadang ada tragedi. Seperti tornado, kadang diputar, kadang dijatuhin, kadang dinaikin juga. Waaahh, susah ya. Makanya sekarang saya mau berubah. Supaya tidak berakhir jadi tragedi, saya berpikir untuk berusaha membuat ending yang bahagia setiap tragedi datang menghampiri. Cepat-cepat cari celah untuk tertawa setiap ada duka.

Namun membuat ending yang bahagia itu tidak semudah itu. Susah, bener-bener susah. Apalagi kalau datang saat-saat paceklik. Senyum yang sudah saya sunggingkan lebar-lebar, ternyata tidak membuat orang lain ikut tersenyum. Kalimat seperti, "eh kok mukanya pucat banget" atau "Eh kok kamu kurus banget sekarang," bikin suasana hati langsung berubah. Lama-lama bikin gak tahan juga.

Kepala saya mulai berpikir ulang. Wah, kalau gini saya harus keluar dari jeratan dualisme komedi-tragedi nih. Kenapa harus berusaha membuat hidup jadi komedi, kalau efeknya bisa jadi tragedi. Setelah otak panas, akhirnya saya dapat solusi. Satu-satunya cara untuk membuang tragedi adalah dengan mengubah genre hidup saya. Tentunya harus genre yang saya suka. Hmmm... kebetulan saya dari dulu kagum sama Eric Robert, Michael Dudikoff, atau Van Damme. Jadi tanpa pikir panjang, langsung saja saya pilih: ACTION!!

Maka saya langsung ajak teman saya naik ke kombi 6 juta, lalu jalan-jalan keliling pulau Jawa. Ayo kita cari cerita action di hidup kita. Paling seru emang terus petualangan :)


Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one
Anymore
-there's a light that never goes out, the smith-