Archive for 2010

Monster

Saya baru ingat rasanya berada di titik nol ketika akhirnya (kembali) merasakannya. Saat ini, di tempat ini, di titik ini: nol kilometer.

Mumpung di titik nol begini saya bebas menentukan (lagi) masa depan saya. Nothing to lose. Toh masih di nol. Mau apa, dimana, arahnya kemana, sama siapa. Bebas. Ini saatnya saya tentukan mau jadi orang seperti apa. Kalau harus dijawab dengan klise dan cepat saya akan bilang, "Saya ingin jadi orang baik."

Namun entah kenapa kepala saya mengingat ucapan sinis seorang teman di kampus--sempat pula jadi teman satu kontrakan--yang dia lontarkan sekitar 8 tahun yang lalu (buset gue tua amat!).

Dulu dia pernah bilang, "Pada akhirnya orang yang berusaha keras melakukan kebaikan akan berakhir tidak melakukan apapun. Sedangkan orang yang sama sekali tidak punya niat baik atau bahkan jahat justru akan berbuat banyak."

Saya was-was mengingat kata-kata silet teman saya itu karena mulut orang itu memang kerap terdengar nyelekit, tapi anehnya dia sering benar.

Mumpung saya sedang dalam suasana nol kilometer, maka saya lihat perjalanan saya di kilometer kemarin. Saya usaha melakukan sesuatu yang saya pikir bisa membuat kebaikan, ada niatan untuk mengubah keadaan, tapi sedihnya hasilnya memang tidak ada. Lagi-lagi nol. Sedangkan di TV akhir-akhir ini orang sedang ramai memuji "kebaikan" Bakrie yang menghibahkan tanahnya pada tim bola nasional. SIAAAAAAALLLL!!!

Teman sinis saya itu benar. Kalau ada manusia yang saya anggap monster dan patut dibenci itu adalah Bakrie, yang masih bisa hidup enak sementara buanyak orang lain hidupnya terlantar gara-gara dia. Dan kini manusia yang saya anggap monster itu disebut "pahlawan" karena seupil hartanya bisa berbuah sesuatu. SIAAAAAALLLLL!!!

Plis deh... gitu aja kok heran. Di cerita fiksi kan juga begitu. Monster Arthur Case merampas harta korban Holocaust yang mati tersiksa, lalu dia putar peruntungan dengan harta itu, jadi super kaya raya, dan tinggal menjalani sisa hidup jadi manusia sholeh baik hati tidak sombong yang selalu beramal baik. Monster Arthur Case pun bisa mati jadi pahlawan.

Apa saya harus jadi monster?

Saya bukannya pengen jadi pahlawan, tapi saya depresi juga terus melakukan nol dengan hasil nol yang bermanfaat untuk nol orang. Padahal saya lagi sensi liat emperan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apa tidak ada orang baik bukan monster atau bukan keturunan monster yang berhasil melakukan sesuatu?

Mungkin V. Eh... tapi V monster juga ding.

Agak berbeda dengan Arthur Case, V jadi monster karena berusaha membunuh monster. Seperti kata Nietzsche yang dikutip buku anak-anak favorit saya, "He who fights with monsters should look to it that he himself does not become a monster. And when you gaze long into an abyss the abyss also gazes into you." V gagal. What was done to him was monstrous. Dan V jadi monster.

Duuuh dilema kahirupan... Mau melakukan sesuatu kesannya cuma bisa kalau jadi monster dulu, atau kalaupun mau jadi orang baik yang membunuhi itu monster-monster, ujung-ujungnya jadi monster juga.

Akh... apa saya jadi monster aja ya? Cookie monster.




Me gotta be blue
Me gotta be blue!
What else can me do?
Me wish me do, but me haven't got clue...
Me gotta be blue
-me gotta be blue, cookie monster-
*coba dengarkan juga lagu aslinya: I Gotta Be Me, Sammy Davis Jr.

Bumi Dan Langit

Minggu lalu saya dapat pelajaran dari seorang teman tentang bumi dan langit. Dia menunjuk sebuah scene bumi dan langit yang sedang saya edit lalu berkata, "Ini langitnya..."

Bodohnya! Hampir 30 tahun saya hidup, tapi saya tidak tahu langit dimana. Selama ini saya pikir langit adalah tempat yang bisa saya lihat dari balik jendela; tempat nyaman di dekat awan. Namun sepertinya saya salah.

Langit sepertinya ada di sini; di tanah yang saya injak, di air yang saya seruput, di udara yang saya dengus. Dekat. Lebih dekat dari urat leher saya sendiri, namun tidak berani saya dekati.

Hiks, saya ingin pergi ke langit, tapi saya tidak berani. Huhuuuu... I feel sorry for my self, but I don't have enough guts. Semoga saya punya tangan cukup panjang untuk meraihmu dari balik jendela, teman. Maaf... Saya baru bisa sampai sini.

Lalu saya kembali duduk di balik jendela sambil berkata, "Ini langitnya..."




Oh dreammaker
You heartbreaker
Wherever you're going
I'm going your way
-moonriver, audrey hepburn-

Budak Harta

Saya hampir 30, tapi masih bingung mencari-cari pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya. Saya pernah dagang VCD, terima pesanan baju, jualan tulisan, ngedit kawinan, asisten fotografer (alias tukang gulung kabel). Tapi belum ada satu pun yang rasanya pas dan membahagiakan.

Malam ini... kelinci di rumah saya buka-buka internet. Dia punya account facebook, saya tidak. Jadi saya deket-deket dia biar bisa ikut lihat-lihat. Ternyata dia baru dapat pencerahan dari facebook. Dia baru saja mengikuti quiz "pekerjaan apa yang paling cocok untuk anda" menurut perhitungan feng shui dari nama. Dan dia mendapat hasil: USTADZ...

Kelinci terharu melihat hasil itu. Dia tidak menyangka bahwa facebook begitu mengenali kepribadiannya. Dan akhirnya dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan dalam hidup.

Melihat pencerahan yang dialami kelinci, saya langsung semangat, ingin ikut kuis itu. Saya pancing kelinci dengan wortel segar supaya dia pergi dari depan komputer, dan berhasil. Kelinci sudah pergi, dan saya mulai mengetik nama lengkap saya. Saya ketik, saya klik, dan saya tunggu. Ternyata hasilnya, pekerjaan yang paling cocok untuk saya adalah: PENDETA.

Wadaaaww... Nanti bisa kacau umat manusia kalau pendetanya kayak saya. Ini pasti ada yang salah nih. Kayaknya kok kurang sreg gitu. Akhirnya saya coba ganti nama... Kali ini saya pakai nama samaran yang biasa saya pakai kalau jadi budak harta. Saya ketik lagi, saya klik lagi, dan saya tunggu lagi.

Eng ing eng... Syukurlah hasilnya lebih baik.

Setelah hampir 5 tahun gonta-ganti pekerjaan, akhirnya facebook berhasil memberi saya titik cerah. Aduh, kemana aja gue selama ini? Kata tulisan di facebook, "Pekerjaan yang paling cocok untuk anda adalah... SATPAM".


Apa ada yang tahu saya bisa daftar dimana?

Mohammad Halik Rudianto

Saya membuat janji pada diri sendiri untuk menulis tentang hal yang terjadi pada dini hari 2 Oktober 2010 di Pemalang, Jawa Tengah. Saya bahkan menulis email ke diri sendiri berjudul Tulis! dengan harapan otak saya bisa dipaksa bekerja. Namun saya tidak bisa. Yang keluar hanya pisuhan sana-sini, racauan tidak jelas yang lebih baik tidak dituliskan.

Kenapa Tuhan buat luka?

Negara bilang human error. Tapi di film Hollywood saya pernah lihat teknologi rem otomatis ketika lampu sinyal menyala merah. Jadi kenapa manusia tidak bisa bilang government error?

Atau mungkin saya yang error. Tidak tahan kontras yang ditawarkan sekitar saya. Pagi hari mengedit cerita bapak TBC stadium 3 di pinggir rel stasiun senen, berpikir apa yang bisa saya berikan. Namun sore hari menonton bioskop dan makan enak di mal, berpikir apa yang bisa saya dapatkan.

Yah, mungkin memang saya yang error. Bapak Mohammad Halik Rudianto, Bapak Slamet Suradio, dan banyak lagi Bapak dan Ibu lain... saya minta maaf atas durhaka yang bangsa ini lakukan pada Bapak dan Ibu.

Kenapa Tuhan buat luka?
Salah sendiri tidak suka...


...Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja?
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa?
Aku bosan...
-tragedi bintaro (19 oktober), iwan fals-

Hari Burung

All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry
Just like before
It's yesterday once more
-yesterday once more, carpenters-


Sampai sekitar 3 tahun yang lalu, hari ulang tahun adalah hari yang saya anggap paling penting dalam setahun. Jauh lebih istimewa dari 364 hari yang lain. Seolah semua hal yang terjadi dalam satu hari itu adalah segalanya. Saya akan simpan semua sms ucapan selamat selama berbulan-bulan, bahkan mencatatnya dalam buku sebelum dihapus. Di hari itu, biasanya saya lakukan berbagai hal: 1. Menyiapkan ingatan khusus tentang apa saja yang terjadi hari itu; 2. Membuat rencana masa depan dan menuliskannya rapi-rapi; 3. Merancang sebuah hari yang membuat hari itu cukup layak dikenang, misalnya dengan pergi ke luar kota, dsb.

Dan coba anda bayangkan, dengan sikap penuh drama seperti itu, saya pernah mendapatkan hari ulang tahun tanpa satu orang pun yang mengucapkan selamat.

Tahun itu kebetulan Ramadhan. Saya sedang kejar setoran THR lewat program sahur dini hari. Hidup saya yang biasanya pergi-pulang Jakarta-Bandung, diganti jadi Jakarta saja selama 1 bulan penuh. Setiap hari pulang subuh ke kosan Maemunah, teman yang sama-sama perempuan pulang pagi korban televisi. Kebetulan diantara hari-hari pulang dini hari itu... saya berulang tahun. Namun sepanjang hari itu, tidak ada satu pun bunyi sms atau dering handphone yang terdengar mengucapkan selamat, bahkan tidak satu orang pun mengucapkan selamat secara langsung. Ironisnya, tepat satu tahun sebelumnya seorang teman sempat memberikan sms ucapan selamat bertuliskan, "happy bird day... don't count your age by number, but count it by the number of your friend."

Maka hari itu secara drama saya simpulkan: saya punya nol teman.

Sepulang dari stasiun tv tempat kejar setoran, saya mendatangi stasiun tv lain tempat Maemunah bekerja, untuk sama-sama pulang ke kosannya. Maemunah yang kelaparan mengajak saya sahur mie instan. Saya ikut saja. Maemunah dan saya bertukar cerita lucu bergantian, lalu kami lalu tertawa-tawa bersama. Meskipun tawa saya sebenarnya palsu (waakkk... drama). Sampai akhirnya saya tidak tahan, lalu saya bilang padanya, "Hari ini saya ulang tahun."

Maemunah langsung histeris dan mengucapkan maaf berkali-kali karena tidak ingat. Saya bilang, "Yah setidaknya ada satu orang yang bilang selamat hari ini," namun Maemunah menjawab, "...tapi sekarang udah besok."

Saya tengok dalam hp, ternyata sudah tanggal 5. Hari ulang tahun teorinya sudah lewat, tapi ya sudahlah... Toh tanggal 4 tahun itu sudah terlanjur jadi hari yang sok melankolis.

Setelah itu saya menjalani hidup dengan drama-drama lain hasil nol teman di hari ulang tahun. Sampai akhirnya 3 tahun yang lalu saya bertemu seseorang. Sama-sama kelahiran tanggal 4, beda satu bulan. Namun bedanya, dia tidak peduli dengan ulang tahun. Bahkan cenderung tidak suka dengan perayaannya.

Dari dia saya belajar bahwa ulang tahun bukan hal sepenting itu. Dia tidak memberikan perlakuan istimewa di tanggal 4, namun anehnya saya tidak peduli. Bagi saya, dia lebih penting daripada hari ulang tahun.

Namun di tahun ini terjadi hal yang lain dari yang lain. Satu minggu sebelum saya berulang tahun, saya terkena serangan drama. Buntu dengan Jakarta dan ingin pergi kemana saja. Dia, si sama-sama tanggal 4 yang tidak peduli dengan perayaan tanggal 4, tiba-tiba memberi saya sesuatu. Katanya itu hadiah yang dia siapkan untuk ulang tahun seminggu ke depan. Dia sedih saya dapat serangan drama, dan memutuskan untuk memberinya saat itu juga.

Dan itu adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya terima selama ini. Diberikan seminggu sebelum ulang tahun... Dua lagu dari salah banyak musisi nomer 1 di dunia. Carpenters dan Sam Cooke.


When the night has come
And the moon is the only light we see
No I won't be afraid
No I won't be afraid
Just as long as you stand, stand by me
-stand by me, sam cooke (originally sung by ben e. king)-

Blogroll

siapa dimana

apa?!