Archive for 2011

Demi Mimpi

Saya merasa hidup jadi orang yang realistis. Kadang-kadang hal itu terpaksa mengikis banyak mimpi. Ketika mimpi saya melipir pergi, saya punya pembenaran paling mujarab hasil wejangan film The Guru: mimpi itu nggak nyata, cuma terjadi pas kita lagi tidur.

Namun saya punya teman yang teguh bermimpi sambil melek. Mimpi dia adalah: bikin film.

Bagi saya pribadi film adalah barang yang aneh. Saya amat sangat suka menikmati film, namun saya sering menganggap film sebagai produk yang angkuh. Saya kerap berpikir bahwa film adalah karya yang terlalu mahal untuk dinikmati penghargaannya oleh segelintir orang saja.

Saya sedih sekali pernah melihat kru-kru film yang sedih merasa tidak dihargai. Lebih sedih lagi ketika saya melihat sutradara mengambil seluruh kredit, seolah film dibuat sendirian. Ada cast & crew yang penting, namun lebih banyak lagi yang dianggap tidak penting. Padahal film dibuat dari hasil kerja keras banyak orang.

Itulah yang membuat saya agak takut untuk mencicipi membuat film.

Nah... teman saya yang bermimpi bikin film tadi ternyata agak lain. Meskipun dia kurang sensitif sama urusan pasangan, namun dia ternyata sangat sensitif sama urusan kemanusiaan. Wadaw kemanusiaan, hehe... Saya menyebutnya kemanusiaan karena dalam membuat film dia amat sangat memikirkan sekali bagaimana baiknya memberikan penghargaan materi dan (yang lebih penting) bagaimana seharusnya memberikan perlakukan yang baik. Istilah yang dia sebutkan adalah "tumbuh bersama".

Teman saya itu sudah dua kali membuat film. Yang pertama amatir. Yang kedua... menurutnya tetap amatir. Bagi saya... "amatir" karena penuh cinta.

Tanggal 22 Desember 2011 lewat, film kedua teman saya itu soft launching di layar tancap gang sesama dekat kebon binatang. Berada di sana rasa membahagiakan. Ketulusan benar-benar ada di sekitar. Saya bukan hanya menikmati filmnya yang jujur, namun juga suasananya yang hangat. Dan angetnya bukan semata-mata karena pelukan kelinci lho... Tapi beneran saya terharu menyaksikan bagaimana casts & crews & friends saling dihargai dan menghargai. Beginilah seharusnya sebuah film dibuat.

Saya berpikir...
Kalaupun ada orang yang layak menerima penghargaan atas sebuah film, itu adalah orang yang membuat film seperti cara teman saya itu. Dan kalaupun ada film yang layak menerima dukungan, itu adalah film yang dibuat seperti cara teman saya membuatnya.

Kebetulan sekarang ini, teman saya itu sedang mencari dukungan 10 ribu co-produser demi kelangsungan film keduanya itu. Jadi... ayo kita dukung filmnya.
DEMI UCOK - a film by cast and crew
written and directed by Sammaria Simanjuntak.

http://www.demiapa.com/demiucok/id/10000copro

Filmnya mengingatkan saya kembali, alasan kenapa film harus dibuat.

kru dan pemain Demi Ucok copas dari FB, minus Jihan trus siapa lagi?


Seseram-seramnya ibukota, lebih seram mimpi sendiri
-gloria sinaga, demi ucok- 

Sarang Hae

Bagaimana orang tahu rasanya jatuh cinta, kalau dia belum pernah ada di dalamnya?

Saya pernah merasa tidak jatuh cinta pada siapapun untuk waktu yang cukup lama. Liat orang kayaknya nggak ada yang menarik. Lagian sebagai remaja yang selalu ingin tampil beda, pacaran kok kayaknya biasa banget ya. Lebih baik main ke perpustakaan. Intinya mah, pas ABG dulu saya rada culun gak kepikiran yang namanya cinta-cintaan. Padahal orang bilang masa remaja itu masa yang penuh dengan hormon... tapi memang begitulah nasib saya jadi anak yang telat.

Tapi tunggu dulu. Meskipun belum pernah kesambet cinta, saya yakin dan tahu betul rasanya jatuh cinta.

Jatuh cinta itu rasanya seperti nonton film bagus.

Saya ingat dulu diajak nonton Unforgiven. Kebetulan Ibu saya penggemar berat Clint Eastwood. Dan Bapak penggemar berat tidur di bioskop. Jadi pergilah kami ke Kiara 21, ramai-ramai nonton film yang baru menang oscar. Setelah film selesai, Ibu kecewa karena Clint Eastwood biasanya langsung dar der dor. Bapak puas-puas aja. Tapi saya kok ngerasa lain. Rasanya seperti didesak masuk dalam kursi bioskop (wedew lebay, tapi suer ini beneran). Perut semeriwing dan lemes bo. Nah, di situ saya tahu rasanya jatuh cinta.

Perasaan seperti itu ternyata banyak terulang lagi. SMP bareng kakak lemes-lemes nonton Leon. SMA nonton 12 Monkeys sampe 3 kali, lemes terus. Kuliah lebih banyak lagi lemesnya. Dan indikasi lemes yang subjektif itu bagi saya tidak pernah berbohong. Mau film yang deretan award-nya panjang, tapi kalo nggak lemes, ya nggak segitunya. Atau sebaliknya, mau dibilang film sampah sama orang, tapi kalo lemes, berarti mantab.

Kemudian beberapa tahun belakangan ini saya jatuh cinta beneran. Pada saat yang sama, film berhenti membuat saya lemes. Kesimpulan saya sih gampang saja: memang sudah lama tidak ada lagi film yang bagus. Terakhir nonton film lemes itu Pan's Labyrinth sesaat sebelum jatuh cinta sama kelinci. Habis itu hilang.

Setelah beberapa tahun gak pernah lemes nonton film, saya mulai berpikir: yang hilang itu film bagus, atau perasaan saya? Masa sih jatuh cinta beneran bikin saya gak bisa ngerasain lagi film bagus? Hiks.

Saya lalu mulai nonton film macem-macem. Kelinci yang beli, saya rebut dan tonton. Tapi film-filmnya kok rasanya tetep biasa aja. Saya jadi takut sekali saya lupa cara merasakan film bagus, padahal saya kangen banget ama rasa itu. Saya cuma percaya satu hal. Kalau jatuh cinta itu rasanya seperti nonton film bagus. Berarti nonton film bagus itu rasanya pasti seperti jatuh cinta. Jangan dicari, jangan dipikir, nanti ketemu sendiri.

Dan satu hari saya akhirnya jatuh cinta lagi...

Jatuh cinta sama Bong Joon Ho.




...She won't let you fly, but she might let you sing
Momma's gonna keep Baby cozy and warm
Oooo Babe
Oooo Babe
Ooo Babe, of course Momma's gonna help build a wall
-mother, pink floyd-

Sarimin

Kerajingan mainan baru bernama Twitter membuat saya banjir informasi cepat. Salah satunya bikin saya bingung banget. Petisi untuk menolak topeng monyet di Jakarta.

http://www.thepetitionsite.com/10/stop-the-torture-of-macaque-monkeys-in-jakarta/

Alasannya bingungnya bukan karena seni dan budaya. Saya orang yang gak terlalu ngerti seni apalagi budaya. Jadi kalau ada yang gak mau ikut petisi2an karena alasan itu seni tradisi, saya bilang aja saya nggak ngerti.

Juga bukan karena peri-kehewanan. Saya nggak ngerti kehidupan monyet. Jadi saya nggak tahu soal batasan penyiksaan terhadap hewan. Kalau ngambil empedu beruang di Vietnam saya tahu itu jahat parah, tapi kalo topeng monyet saya nggak tahu.

Jadi bingungnya karena begini...
Teman saya pernah ke kampung Topeng Monyet, di daerah Cipinang. Sambil ketawa2 dia tanya saya, "Udah pernah ke sana belom?"
Saya jawab, "Belom."
Dia bilang," Wah lu musti ke sana... miskin-miskin! Parah miskinnya."

Sebuah petisi pastinya diisi orang kemungkinan besar peduli, tapi apa kepedulian itu dipikir dan diteliti dulu ya? Gak tahu juga apa pengaruh petisi kayak ginian dan kekuatannya bikin perubahan, tapi bikin saya mikir aja. Kalo misalnya itu petisi berhasil, kumaha tah kahirupan kampung topeng monyet. Apa pengisi petisi yang peduli monyet itu peduli sama nasib manusia pemilik monyet?

Apa peduli itu berarti mengerti? Ini bikin saya bingung karena takut kalo saya menolak sesuatu karena peduli malah bikin saya mengambil keputusan yang salah.

Atau saya aja yang terlalu ruwet, padahal ujung-ujungnya tetep aja nggak ikutan petisi. Padahal kalo nggak ngisi petisi ngapain ribet ribut-ribut.

Kalo kata orang sunda bilang, "Mun teu ngiluan mah cicing wae..."
Ya sudah saya diam...

Hiks... Setidaknya saya mencoba mengerti...

Kenapa saya sedih akhir-akhir ini?

Mungkin sakit hati pas survey bilang Soeharto lebih baik
Mungkin gara-gara masuk ITB sekarang 55 juta, paling murah 13,5 juta
Mungkin capek mikir... dasar kahirupan
Mungkin kesal internet Smart jadi lemot
Mungkin sedih BBC Knowledge gak ada lagi di rusun
Mungkin karena kelinci sakit...

Mungkin semuanya benar

Kelinci jangan sakit... :(


People come and go and walk away
but I'm not going anywhere
I'm not going anywhere
-i'm not going anywhere, keren ann-

Bersama Kita Pizza!

Bagi saya, Pizza adalah makanan paling enak di dunia.

Sejarahnya dimulai ketika saya pulang sekolah. Putih-Biru waktu itu. Bapak pulang kantor membawa Pizza, makanan yang sejak kecil cuma bisa saya lihat di serial Kura-Kura Ninja. Saya, dan dua saudara saya kagum. Akhirnya kesampaian bisa makan pizza. Selamat makan! Wuih enak banget.

Ternyata Bapak dan Ibu tahu anak-anaknya doyan pizza. Mereka niat irit supaya kami bisa makan pizza langsung di tempatnya. Pizza Hut di Regent. Pesan secukupnya, rasanya selangit, lalu keluarlah tagihan Rp. 35.000,-. Alamak! kok mahal banget ya. Tiba-tiba saya tersambar sesuatu yang membuat saya mengerti kenapa orang rela membayar mahal untuk dapat sensasi rasa tertentu. Ada uang, ada barang.

Setelah hari itu saya mulai mengumpulkan uang untuk mendapat sedikit rasa mewah. Wendy's, album kaset, marlboro, pokoknya apapun yang menurut saya mahal dan bikin penasaran. Awalnya membahagiakan, tapi lama-lama rasanya kok jadi hambar ya? Saya heran sendiri.

Beberapa tahun kemudian Ibu saya bicara... Orang itu mau kaya, mau miskin, mau pinter, mau bodo, tetep ada yang sama. Yang sama itu perasaan senang, sedih, takut, marah, semua dapat bekal yang sama. Kalaupun dunia ini tidak adil, setidaknya rasa itu yang bisa bikin adil. Rasa senang anak kecil diberi mobil mainan jeruk bali mungkin sama dengan rasa senang konglomerat dimana yang baru beli mobil paling mewah. Waduh bener juga ya... Ternyata harga tidak penting, yang penting rasanya. Oke... saya ingat baik-baik. Gak perlu mahal, yang penting perasaannya.

Sejak hari itu saya selalu coba melakukan apapun pakai rasa. Pilih-pilih, coba-coba. Setelah ditelaah dengan teliti dan seksama, ternyata makanan yang bikin perasaan saya senang ya Pizza. Perasaan saya 17 tahun yang lalu tidak salah. Pizza memang enak. Dan itu aneh karena sekarang banyak Pizza rasanya gak karuan, tapi saya tetap suka. Mau bulat, mau kotak, tetap rasanya enak dan senang.

Ya, mungkin saya sedikit sial karena Pizza tetap saja barang mahal bagi saya sampai hari ini.

Masa Depan

Dulu ada orang bilang, "Jangan berharap... Yang salah itu berharap."
Dan saya percaya.
Kalau nggak berharap gak bakal sakit hati kan?
Tiba-tiba sebuah film jam 2 pagi mengubah saya...

Sekarang saya berharap dikit deh...
komputer editing, komputer editing, komputer editing!

Kalau ada yang bisa bantu saya...
Tolong carikan The Invention of Dr. Nakamats di internet. Hiks... hiks...
Pengen nonton lagi 1000 kali, untuk masa depan yang lebih funky.



Life should be lived long. Speech should be short!
-dr. nakamats-

Debu

hari ini saya sedih, mengiyakan pernyataan: kita telah gagal sebagai bangsa :(
saya harus pergi kemana?

ini buat teman-teman yang terluka karena dianggap beda...
lagu yang menemani kesedihan saya hari ini
tentang rindu...
semoga suatu saat bisa kita hapus debunya sama-sama
supaya pelanginya bisa kelihatan...





...dan aku rindu melangkah di duniamu...

Blogroll

siapa dimana

apa?!