Archive for 2012

Cmungudh Eaaaa...

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menelepon. Awalnya cuma obral-obrol biasa, lama-lama jadi curhat. Katanya dia terancam didepak dari pekerjaannya karena dianggap kurang memberikan kontribusi. Dia lantas nangis-nangis sebesar bombay. Katanya, setiap hari kerja sampai malam, kadang hari libur dilibas juga, ternyata dia cuma dinilai sebatas statistik laporan penjualan. Selama ini dia terlalu ramah, lembek kalau kata perusahaannya.

Teman saya ini bekerja jadi baut di perusahaan raksasa. Satu dari ratusan domba di padang rumput yang luas. Kalau dia tidak melompat, dia tidak akan terlihat. Perusahaan tempatnya bekerja memberikan waktu 3 bulan untuk melompat, setelah itu jreng-jreng...

Saya yang tidak tahu suka duka orang kantoran lalu sok memberi saran, "Ya sudah kerja saja lebih keras 3 bulan ke depan."
Dia tambah sesegukan. Saya tambah bingung.

Dia bilang bukan tidak bisa, tapi tidak mau. Kalau dia handal di pekerjaannya, dia takut berubah jadi orang yang bengis. Pandai menjual banyak barang dengan harga tinggi berarti mendesak terus, menekan sampai menang. Perusahaan dapat semua, klien dapat sedikit. Ya pokoknya bengis deh. Namun di sisi lain, dia perlu pekerjaan untuk hidup. Ibukota terlalu kejam untuk hidup tanpa penghasilan. Dia tanya, "Jadi harus gimana dong?"

Hmmm... Akhirnya saya berusaha berpikir, saran apa yang bisa saya berikan?

Tiba-tiba saya ingat dulu sekali pernah dapat proyek di sebuah kantor kecil. Duitnya lumayan, proyeknya tampak bermanfaat bagi orang banyak, dan pekerjaannya bisa jadi langgeng karena proyeknya bertahap. Kesannya sempurna banget. Beberapa tahun ke depan saya akan aman keuangan. Untuk awalan saya dipekerjakan pada proyek tahap pertama.

Begitu masuk setengah dari pekerjaan, saya menemukan bahwa proyek yang sepertinya mulia ini sepertinya cuma mesin pengumpul uang. Konten tidak penting bagi pemiliknya. Bicaranya jauh lebih besar daripada kenyataan. Saya bahkan meragukan kalau dia adalah orang yang benar-benar peduli. Dan seperti yang selalu saya percaya... apapun yang dikerjakan tanpa hati, rasanya pasti tengik.

Jadilah saya terjebak dengan pikiran saya sendiri. Setengah diri saya ingin saya meneruskan pekerjaan sampai tahap-tahap selanjutnya, supaya saya tidak perlu bingung lagi dengan urusan duit. Namun setengah diri saya bilang ini salah.

Di sela-sela kebingungan terjebak dengan pertanggung jawaban moral, saya berkenalan dengan anak-anak dari pemilik kantor itu. Saya bersyukur banget anak-anaknya beneran baik banget. Salah satu dari mereka kemudian cerita tentang jatuh bangun hubungannya dengan ortunya (si pemilik kantor itu). Duh... sedih banget dengernya.

Saya dengar cerita bagaimana niatan pemilik kantor untuk meraup untung besar dengan kadalin kanan kiri malah membawa keluarga mereka ikut jatuh, sampai berulang kali. Banyak kemarahan dan kesedihan. Di situ saya sadar kalau kita punya pilihan dalam hidup. Dan pilihan itu akan menentukan kita jadi manusia macam apa, bagi diri sendiri dan sekitar kita. Kita sudah dikasih modal hati untuk menimbang. Tepat setelah itu saya dapat semangat tinggi untuk bekerja lagi, sekedar untuk menyelesaikan tugas tahap pertama yang sudah saya sanggupi, lalu pergi sambil mengucapkan selamat tinggal bagi kestabilan finansial beberapa tahun ke depan.

Pengalaman itu bikin saya punya jawaban untuk pertanyaan teman lama saya yang galau dengan kantor multi nasionalnya. Saya bilang padanya, 3 bulan ke depan dia bisa bekerja lebih keras dalam arti menyelesaikan tugas tepat waktu, bekerja lebih efisien, dkk. Namun apapun yang terjadi jangan sampai korbankan hati sendiri. Tidak perlu jadi bengis kalau dia memang tidak mau. Kalau setelah 3 bulan perusahaan menganggap itu tidak cukup, saya yakinkan dia untuk percaya bahwa di luar sana masih buaanyak hal yang lain. Kadang bentuknya memang bukan materi, tapi banyak hal lebih indah dari materi. Eh tapi siapa tahu ada pekerjaan lain yang lebih cocok dengan gaji lebih oke. Ya kan? Toh saya tahu betul teman saya ini pandai dan pekerja keras.

Jadi buat teman lama sayah... tetap cmungudh eaaa. What ever will be, will be...


Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
Cause none of them can stop the time
-redemption song, bob marley-

Berani Karena Benar, Takut Karena Ayam

Dalam minggu yang sama, saya dihadapkan dengan dua pembicaraan yang menakutkan saya.

Pertama tentang kemungkinan meninggalkan dua kota yang paling nyaman bagi saya saat ini. Pilih kota lain selain Bandung dan Jakarta, buat petualangan baru di sana. Saya takut dan saya yakin kelinci sama takutnya. Tapi apa dua orang takut bisa berubah jadi berani?

Tepat keesokan harinya saya langsung dijedotin dengan ketakutan kedua. Yang ini ceritanya panjang dan dimulai dari beberapa tahun yang lalu.

Begini... Sudah lama saya bete sama pembangunan masjid yang menurut saya sering berlebihan. Kadang-kadang saya bisa melihat bangunan itu berdiri gagah padahal di sekitarnya berdiri rumah-rumah yang kuyu dan lesu. Saya pengen banget masjid itu jadi tempat yang fungsional, terbuka untuk semua. Tempat saling belajar. Tempat saling berbagi. Seperti fungsinya di jaman Rasul atau kejayaan masa lalu yang sayup-sayup sering saya dengar. Bukan menghabiskan uangnya untuk pembangunan. Logikanya, Indonesia itu mayoritas muslim... Jadi banyak perubahan seharusnya bisa dimulai dari masjid. Dulu saya pikir, kayaknya saya harus bikin film soal ini.

Tapi saya tidak berani...

Lalu hampir dua tahun yang lalu masjid di dekat rumah saya direnovasi. Bangunan lamanya diratakan dengan tanah, lalu dibangunlah masjid yang rencana biayanya 2 miliar. Sejauh ini sudah kekumpul 1 miliar dengan sumbangan berkeringat-keringat dari semua warga. Kalau jalan pikiran saya: bisa aja langsung ganti rancangan dan bikin masjid dengan biaya 1 miliar. Toh lahannya juga kecil banget. Tapi ternyata, pengurus2 itu keukeuh pengen bangun masjid 2 miliar yang akhirnya membuat pembangunan masjid berhenti sampai setahun. Jadi sudah lebih dari setahun itu bangunan bentuknya ga karuan. Beton-beton tidak selesai, besinya keluar-keluar. Miris deh. Pembangunan tidak selesai itu sukses membuat saya tidak tarawih di masjid itu tahun lalu. Dan saya jadi ingat tentang film yang dulu kepengin saya buat itu. Apa saya bikin aja ya?

Ternyata saya takut...

Tiba-tiba kemarin saya ngobrol ngalor-ngidul dengan teman. Ternyata obrolan belok ke urusan masjid ini. Dia juga galau soal sumbangan masjid. Dia ingin rutin menyalurkan sumbangan untuk kegiatan sosial apapun. Dalam pikiran dia, tempat yang paling tepat adalah masjid. Tapi begitu keliling beberapa masjid untuk melihat laporan keuangannya, bisa dibilang hampir tidak ada yang dialokasikan untuk kegiatan sosial. Padahal kasnya bisa sampai 50 juta (ini bersih karena semua biaya operasional sudah dibayarkan). Kalau saja masjid tahu siapa anak yang tidak bisa sekolah, atau warga yang sakit dan tidak bisa berobat, kayaknya banyak yang bisa diperbaiki dari semua keruwetan ini.

Teman saya itu mengajak saya untuk nekat bikin film seperti yang dulu ingin saya buat. Dia kasih ide-ide yang lebih jelas, dan kemungkinan bikin klip-klip yang lebih pendek. Tapi saya malah bingung. Ternyata saya tidak berani membuat film itu karena pertanggungjawabannya. Saya tidak tahu caranya mulai masuk masjid dan berbuat sesuatu. Jadi kesannya cuma protes sana-sini, tapi nggak berani menerapkan ke diri sendiri juga. Saya pikir teman saya itu pun gak berani-berani amat.

Namun seperti juga ide soal pergi dari Jakarta-Bandung itu, apakah dua orang takut bisa berubah jadi berani?


I don’t know what’s right and what’s real anymore
I don’t know how I’m meant to feel anymore
When do you think it will all become clear?
‘Cause I’m being taken over by the fear
-the fear, lily allen-

Suffer Lover

Saya tidak tahu apa passion hidup saya dan entah kenapa saya tidak terlalu percaya kalau orang dituntut hanya punya satu passion.

Kalau passion disederhanakan dengan pertanyaan: apa yang akan kamu lakukan kalau kamu punya uang yang tidak terbatas? Maka saya akan jawab: saya akan bikin sesuatu untuk pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang setara untuk semua orang Indonesia siapapun dia, dimanapun dia.

Tapi apa saya menganggap itu passion? Saya akan jawab, kayaknya nggak juga.
Karena kalau keadaan di negara ini cukup setara, mungkin saya akan memberikan jawaban yang lain untuk pertanyaan yang sama. Kebetulan saya juga suka banyak hal lain dalam kahirupan ini.

Tapi eniwey... Saat ini saya hidup jauh sekali dari jawaban atas pertanyaan di atas karena saya tidak tahu cara untuk mendekatinya. Langkah yang bisa saya lakukan hanyalah menjalankan hidup dengan koridor yang setidaknya saya tahu tidak merugikan orang dan sesedikit mungkin membuat kerusakan. Bagi saya menjalankan hidup dengan batasan itu pun sudah cukup berat dan melelahkan. Makanya saya biarkan keadaan seperti apa adanya supaya nggak bikin semua tambah lieur.

Seorang teman satu kost pernah bilang ke saya, kalau saya mau bikin semua perubahan itu, saya harus kaya. Susah melakukan apapun kalau urusan bertahan hidup saja masih gak jelas. Nah, untuk urusan yang itu saya lebih bingung lagi. Kebetulan tawaran pekerjaan yang datang dalam hidup saya ya segitu aja. Saya juga masih bingung cara menjadi mapan tanpa jadi monster.

Di luar semua keribetan itu...
Saya masih menjalani hidup yang sama dengan apa yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu. Tapi sekarang saya jalani semua dengan pikiran yang sangat berbeda sejak kelinci datang melompat ke rumah saya.

Pelajaran terbesar adalah: hidup itu tidak boleh kompleks.

Manusia itu beda-beda, banyak yang punya kisah masa lalu yang complicated. Tapi semua orang bisa punya masa kini dan masa depan yang sederhana. Lakukan sebatas yang saya bisa. Boleh sekuat tenaga tapi tetep di batas yang saya bisa. Lalu percaya kalau hidup untuk dijalani bukan untuk direnungi, seperti nasihat Sabar Gorky yang saya dengar di televisi. Sederhana.

Semua gara-gara kelinci...
Kelinci... udah setahun kita :D

Jadi inget lagu yang pernah aku kasih ke kamu untuk sok-sokan berusaha menjelaskan keribetan kepalaku.



happy wedding anniversary sayang...
(meskipun tulisannya telat karena kita terpaksa dipaksa camping)


I'm not looking for an easy ride
True happiness cannot be tried
So easily
-goodnight lovers, depeche mode-

Kahirupan

Ngluruk Tanpo Bolo
Menang Tanpo Ngasorake
Sekti Tanpo Aji-Aji
Sugih Tanpo Bondho


...semoga...

Blogroll

siapa dimana

apa?!