Archive for 2014

Gegara Cosmos

The seeker after truth is not one who studies the writings of the ancients and, following his natural disposition, puts his trust in them, but rather the one who suspects his faith in them and questions what he gathers from them, the one who submits to argument and demonstration and not the sayings of human beings whose nature is fraught with all kinds of imperfection and deficiency.

Thus the duty of the man who investigates the writings of scientists, if learning the truth is his goal, is to make himself an enemy of all that he reads, and, applying his mind to the core and margins of of its content, attack it from every side. He should also suspect himself as he performs his critical examination of it, so that he may avoid falling into either prejudice or leniency.

-Ibnu Haitham (965-1039)-

Lurus Jalan Terus

Negara saya sedang di ujung perubahan. Hasilnya bisa menyenangkan atau mungkin tak sesuai harapan. Teman saya was-was akan hantu lama yang datang tanpa diundang. Sedang yang lain ketakutan, katanya serangan akan datang merusak ajaran.

Saya ada dimana?

Menjadi makhluk mayoritas tiga kali di negara ini memang memberi saya banyak keuntungan. Saya punya ruang yang cukup untuk berpikir pelan-pelan. Saya percaya banyak kebaikan di sekitar saya. Dan si pembenci mungkin sedang punya masalah di rumahnya.

Hari ini saya makin optimis melihat sosok pemimpin yang tulus bekerja. Perjalanan bangsa yang katanya acak-acakan ini ternyata bisa melahirkan orang seperti beliau. Dan ia hanya satu diantara yang banyak. Saya jadi berpikir, mungkin masa depan baik bukan dibangun oleh dia yang punya visi besar, namun seorang realistis mampu melakukan perbaikan satu demi satu.

Saya tidak takut.

Pak Jonan, semoga engkau jadi menteri perhubungan.




Whatever happened to
The life that we once knew?
Can we really live without each other?
Where did we lose the touch
That seemed to mean so much?
It always made me feel so...
Free as a bird
-free as a bird, the beatles-

so many special people change


why many special people change?

Utopia

Saya tinggal di dunia, bukan di surga. Bagi saya bumi memang indah bagai nirwana, namun kita, manusia, sering sukses membuatnya jadi neraka.

Hari pertama manusia dilahirkan di dunia ini adalah hari pertama kita membuat kerusakan. Wajar Soe Hok Gie bilang kalau nasib terbaik adalah tidak dilahirkan.

Kita ini makhluk paling tidak mandiri yang perlu begitu begitu banyak penyokong tidak ramah lingkungan untuk hidup. Saya harus bikin polusi luar biasa dari pembakaran batubara, hanya untuk menyalakan lampu. Saya harus mengotori air dengan berbagai jenis sabun untuk membuat piring, baju dan badan saya wangi. Rata-rata saya bikin 2 liter sampah sehari. Saya perlu tambang untuk merangkai TV, komputer dan handphone saya. Dan masih banyak lagi dan lagi. Makin rumit hidup kita, makin hancur juga alam ini.

Manusia adalah makhluk yang paling tidak eco-friendly. Dan istilah save the earth atau kata-kata penyelamatan bumi lain adalah pernyataan yang lucu sekali. Tidak ada penyelamatan, yang ada adalah upaya mengurangi kesalahan.

Lalu saya harus gimana ya?

Saya pernah dengar dari Michio Kaku, katanya menurut skala Kardashev saat ini peradaban manusia masih berada di tingkat 0. Sudah hampir menuju I, tapi tetep aja masih 0. Pada peradaban tipe 0 inilah kita masih perlu mengeksploitasi bahan bakar fosil. Mungkin pada peradaban yang lebih maju tidak perlu lagi. Bisa jadi banyak hal bisa jadi lebih baik di masa depan nanti.

Dari dulu sampai detik ini, saya memang percaya kalau banyak peneliti di luar sana berusaha sekuat napasnya untuk mencipatakan inovasi, supaya kita bisa jadi makhluk yang lebih baik. Saya juga tahu kalau mereka memilih tinggal di negara seperti Indonesia, maka kerja mereka sama sekali tidak mudah. Berkorban energi dan emosi.

Saya tidak punya kecerdasan dan tenaga seperti para peneliti ini. Tapi saya pengen ikut berusaha mengurangi kesalahan. Saya bisa apa ya?

Ignorance is not bliss.

Tuhan tolong sekali, saya perlu bantuan-Mu...



Siapa tahu suatu hari nanti kita bisa berhenti buat bencana.


Hey, Hey, I saved the world today
Everybody's happy now
The bad thing's gone away
And everybody's happy now
The good thing's here to stay
Please let it stay
-I saved the world today, eurythmics-

Alasan Pertama Untuk Belajar Masak

Sebagian keluarga saya berasal dari Surakarta, yang di tahun 70-an ngungsi ke Boyolali. Setiap tahunnya saya beberapa kali pulang kampung dan tentunya akan jalan-jalan di sekitar Solo. Tapi anehnya saya gak tahu restoran atau warung makan yang menjual makanan khas Solo.

Seumur-umur liburan pulang kampung, saya nyaris tidak pernah makan makanan tradisional di luar rumah. Mungkin seperti teman saya di Makassar yang pernah saya tanya dimana Palu Butung paling enak, dia jawab di rumah. Emang sih makanan paling enak itu mungkin adanya di rumah. Seperti dulu pernah ada kerjaan bareng kelinci, tinggal di rumah orang Madura, makanannya edun pisaaan. Buat apa jajan di luar kalau di rumah bisa dapat yang lebih enak. Nasi Liwet, Selat, Setup Makroni, Timlo bisa dimasak enak oleh Mbah atau Ibu saya di rumah.

Sekarang Mbah saya sudah nggak ada. Itu bikin saya mikir, apa ntar resep makanannya bisa punah di tangan saya. Seperti yang pernah terjadi pada satu resep makanan dari Ibunya Bapak di Purworejo. Sebenernya cuma gudeg sih, tapi rasanya enak banget, dimasak pakai daging kerbau. Resep itu hilang sudah karena gak ada satu pun anak, mantu atau cucunya yang tahu gimana cara masaknya. Nasib dah.

Selama ini saya mengandalkan si kelinci untuk belajar resep dari Ibu saya karena saya ini bodo banget soal masak memasak. Tapi sekarang saya niat mau belajar. Yang gampang-gampang aja dulu. Semoga ntar gak keluar malesnya.

Tunggu sebentar... apa ini sejenis resolusi 2014?


dicopas dengan semena-mena dari internet

Blogroll

siapa dimana

apa?!