Kelabu

Mungkin pikiran saya lebay, tapi entah kenapa saya merasa sesuatu yang kelabu akan terjadi beberapa tahun lagi. Saya khawatir hal itu seburuk apa yang terjadi di masa lalu. Semoga tidak. Semoga tidak.

Apapun itu... perasaan tidak enak itulah yang jadi alasan terkuat kenapa saya ikut memilih di pemilu 2014 lalu. Saya tidak pernah punya pikiran politik sebegitu pentingnya sampai saya merasa ada harapan yang bisa diusahakan.

Malam ini saya merasa harapan itu pelan-pelan luntur, padahal pemerintahan baru berjalan 6 bulan.

Sebagai bangsa kita memang sering sial kena banyak masalah, namun kita juga banyak membuat salah. Satu-satunya jalan keluar adalah berubah.

Saya bukan orang yang punya penghasilan besar, tapi tidak masalah harga BBM naik turun atau salto jungkir balik sekali pun. Saya mengerti pelayanan umum masih buruk. Saya sadar benar kalau perubahan fisik perlu waktu dan pengorbanan.

Namun bagi saya, artinya berubah bukan sekedar urusan ekonomi.

Perjalanan hidup saya mengajarkan kalau seseorang harus menyelesaikan masalah dirinya lebih dulu untuk bisa memperbaiki hal yang lebih besar. Hal yang sama saya percaya berlaku untuk sebuah bangsa, terutama yang rumit seperti bangsa ini. Saya ingin bangsa ini, lewat pemerintahannya, bisa menyelesaikan masalah dirinya lebih dulu.

Ketika insiden Paniai terjadi, tidak secuil pun kata maaf terucap. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda pemerintah akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu. Bahkan wakil presiden pernah menyatakan tidak akan meminta maaf untuk kesalahan masa lalu.

Lunturnya harapan saya lalu berubah jadi takut. Saya hanya bisa berdoa.

Saya berdoa sepenuh hati: semoga kita sama-sama bisa berubah, dimulai dari hati dan empati.


Semua ini membuat aku cemas menghadapi masa depan.
Gairah, senang, tapi di lain pihak putus asa, takut, cemas dan lain lain.
-ahmad wahib (1942-1973)-