Archive for 2009

Tragedi Putar

Bulan lalu saya diajak Ibu pergi ke Ancol, tentu saja lihat komedi putar. Entah dapat angin dari mana tau-taunya saya berpikir, hmmm... KOMEDI putar. Apa lucunya sampe dikasih nama komedi? Mungkin karena bisa membuat anak kecil bahagia ketika berputar di atasnya.

Bener gak? Bisa jadi.

Kemudian saya kembali berjalan, tiba-tiba saya lihat ada anak kecil nangis di atas komedi putar. Lho namanya komedi kok malah nangis, kalau nangis kan Tragedi namanya. Eits, jangan-jangan emang itu Tragedi Putar. Lucu juga kan. Abisnya saya pernah dengar kalau komedi memang begitu dekat dengan tragedi, seperti dua sisi keping mata uang. Jadi jangan-jangan, Komedi putar dan Tragedi putar adalah keping mata uang yang sama. Dan supaya wahananya laku, jadi kasih nama Komedi Putar saja.

Waaahhh, perjalanan Ancol saya kali ini pun rasanya jadi lebih filosofis. Sok-sokan mencari filosofi di balik komedi dan tragedi. Lalu sambil naik kora-kora saya berpikir, mengulang semua cerita komedi yang pernah saya tonton. Ternyata saya mendapat pencerahan... Hmmm... Komedi dan Tragedi itu sepertinya cerita yang sama. Kisah tragedi yang kita tertawakan, itulah komedi. Lihat saja Srimulat. Kepeleset, kecolok bolpen, ketahuan kurang ajar sama majikan, tiba-tiba muncul hantu di dalam rumah. Hey! Itu semua tragedi. Bayangkan kalau kejadian itu kamu alami sendiri. Tragedi kan?

Trus kalau mereka sama, berarti nasib orang-orang yang gemar sok melucu keliatan jadi tragis dong? Oh nanti dulu... Ternyata Tragedi dan Komedi itu bisa dibedakan. Kalau menurut film Stranger Than Fiction (2006), beda komedi dan tragedi itu ada pada endingnya. Kalau di Komedi, tokohnya akan dijodohkan. Kalau di tragedi, sang tokoh akan mati. Intinya mah, tergantung endingnya, seneng atau sedih.

Sambil naik tornado saya mulai mereview ulang hidup saya. Kadang ada komedi, kadang ada tragedi. Seperti tornado, kadang diputar, kadang dijatuhin, kadang dinaikin juga. Waaahh, susah ya. Makanya sekarang saya mau berubah. Supaya tidak berakhir jadi tragedi, saya berpikir untuk berusaha membuat ending yang bahagia setiap tragedi datang menghampiri. Cepat-cepat cari celah untuk tertawa setiap ada duka.

Namun membuat ending yang bahagia itu tidak semudah itu. Susah, bener-bener susah. Apalagi kalau datang saat-saat paceklik. Senyum yang sudah saya sunggingkan lebar-lebar, ternyata tidak membuat orang lain ikut tersenyum. Kalimat seperti, "eh kok mukanya pucat banget" atau "Eh kok kamu kurus banget sekarang," bikin suasana hati langsung berubah. Lama-lama bikin gak tahan juga.

Kepala saya mulai berpikir ulang. Wah, kalau gini saya harus keluar dari jeratan dualisme komedi-tragedi nih. Kenapa harus berusaha membuat hidup jadi komedi, kalau efeknya bisa jadi tragedi. Setelah otak panas, akhirnya saya dapat solusi. Satu-satunya cara untuk membuang tragedi adalah dengan mengubah genre hidup saya. Tentunya harus genre yang saya suka. Hmmm... kebetulan saya dari dulu kagum sama Eric Robert, Michael Dudikoff, atau Van Damme. Jadi tanpa pikir panjang, langsung saja saya pilih: ACTION!!

Maka saya langsung ajak teman saya naik ke kombi 6 juta, lalu jalan-jalan keliling pulau Jawa. Ayo kita cari cerita action di hidup kita. Paling seru emang terus petualangan :)


Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one
Anymore
-there's a light that never goes out, the smith- 

Crazy Happy People

Dua tahun yang lalu saya sempat berpikir, berapa besar penderitaan yang diperlukan orang Indonesia untuk membuat hidup kita lebih kreatif? Saya bukannya bilang orang Indonesia gak kreatif sih, tapi kok "produk" asli Indonesia tidak banyak yang diakui secara global dan mendunia. Deuh bahasanya jadi formal pisan.

Mungkin saya cuma liat hasilnya dalam tataran populer aja ya. Karena "produk" Indonesia paling mendunia saat ini, menurut saya cuma ANGGUN. Selain itu... hmmm, woman trafficking kayaknya. Yah, ini sih ga bisa diitung. Trus kenapa kok cuma Anggun? Padahal kita punya lebih dari 200 juta kepala, dan banyak yang menderita.

Lho, apa hubungannya ama penderitaan?

Begini hubungannya: Saya belajar kalau beberapa pergerakan penting (atau kejeniusan tertentu) kayaknya bermula dari penderitaan. Kalau dulu (orang) Inggris gak depresi, maybe Johnny Rotten won't get pissed, dan gak akan ada Sex Pistol. Mungkin lho.

Atau kalau Amerika gak pernah nekat mengumandangkan perang Vietnam. Mungkin para pemuda gak akan ngamuk disuruh pergi perang, dan mungkin gak akan ada flower generation, atau karya yang lebih idealis buat The Beatles, John Lennon, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, ini cuma mungkin lho.

Yang jelas, saya berpikir penderitaan menciptakan keadaan terdesak, kemarahan, depresi, dan kegilaan. Orang-orang tertentu yang ikut menyaksikan dan merasakan, biasanya ikut-ikutan gila. Lalu mereka menuangkannya dalam suatu bentuk kreatifitas tertentu.

Sebenarnya memang ada Pramoedya Ananta Toer, yang cukup terganggu dengan keadaan bangsa, lalu menulis banyak karya monumental. Atau (buat saya) Djoko Pekik, yang pekik amarahnya mengejawantah jadi lukisan edan. Namun berapa banyak orang-orang seperti mereka di sini? Terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penderitaan yang ada. Pusing deh kalo dipikirin.

Sampai suatu hari saya berjalan di tengah coakan trotoar jalan dago. Niatnya mau ngeceng di BIP. Cuman gara-gara duit tinggal 2 ribu, saya terpaksa jalan kaki karena uangnya kurang buat naik angkot. Sambil melatih siulan, saya melenggang sambil senyum-senyum sendiri. Namun tiba-tiba di tengah jalan, saya melihat pemandangan yang bikin saya shock. Saya lihat seorang Bapak, sepertinya pemulung, makan dari tempat sampah sebuah rumah gedongan. Maaaakkkk. Ya, mungkin makanan itu belum basi, tapi itu tetap sampah. Saya langsung panik. Kalau saja saya punya uang agak banyak, mungkin bakal saya traktir Bapak itu makan warteg, atau apapun yang dia mau deh. Tapi dasar nasib duit cuma 2 ribu. Dalam kebingungan, saya berikan saja duit itu.

Lalu saya berpikir. Dengan besarnya penderitaan yang dialami Bapak itu, bukankah karya besar seharusnya sudah tercipta dari tangannya? Ah, Bapak itu sudah pusing sama hidupnya, gimana mau bikin karya. Kalau begitu, tanggung jawab itu jatuh ke tangan saya. Saya menyaksikan, merasakan, ikut marah, ikut terganggu. Jadi seharusnya saya bisa bikin karya.

Saya batalkan rencana ngeceng, lalu mulai menulis dalam suasana penuh emosi. Namun setelah mencorat-coret sumpah serapah terhadap masalah bangsa selama 24 jam, ternyata tidak ada tulisan yang tercipta. Kata-kata saya rasanya dihabisi oleh rasa mual yang tidak bisa hilang. Lalu saya kembali berusaha selama sebulan. Tidak juga keluar. Saya bisa memulai kalimat, namun tidak bisa mengakhirinya. Lama-lama, saya mulai kehilangan rasa. Saya pikir, ah kejadian seperti itu pastinya banyak terjadi di sini. Kita ini manusia. Wajar kalo dikasih cobaan sama Tuhan. Kalau kita nrimo, mungkin Tuhan bisa kasih jalan. Menulis kekecewaan itu artinya ngoyo, tidak ikhlas. Tuhan tidak suka. Saya pun berhenti terganggu, dan akibatnya berhenti menulis. Apa yang mau ditulis kalau saya tidak terganggu?

Setelah tidak menulis selama 1 tahun 9 bulan, baru saya mendapat pelajaran dari semua peristiwa itu. Bahwa sepertinya, banyak orang Indonesia, memang tidak mudah menderita (mungkin karena sudah terlalu sering ditekan). Bagitu banyak cobaan sudah terjadi, namun kita masih tenang-tenang saja. Yang terkena bencana diharapkan mengambil hikmah dari setiap ujian. Yang tidak terkena, seperti saya, lama-lama mati rasa juga. Entah malas peduli, atau kebingungan sendiri. Kalau mau prihatin, lebih baik diam dan berdoa. Jangan berani-berani membalas, nanti kamu kena gilas.

Prinsip diam itu yang membuat kita tidak terganggu untuk membuat karya yang menggigit. Seperti nasehat Bapak di kampung dulu, ojo cedak-cedak kebo bupak. Karya kritis seperti yang dibuat Pram bagaikan kebo bupak yang seharusnya dihindari. Lebih baik diam dan berdoa. Kalau pun susah, ya dibuat senang saja. Kalau pun sedih, ya tertawa saja.


We're crazy happy people.
That's it!


When I fall into comberan
my face dirty and blepotan
When I nyangsang di tiang jemuran
never mind because I can gelantungan
Yeyeyeaaah...
I'm superman baby
-superman, benyamin sueb-

Blogroll

siapa dimana

apa?!