TRAGEDI PUTAR


Bulan lalu saya diajak Ibu pergi ke Ancol, tentu saja lihat komedi putar. Entah dapat angin dari mana tau-taunya saya berpikir, hmmm... KOMEDI putar. Apa lucunya sampe dikasih nama komedi? Mungkin karena bisa membuat anak kecil bahagia ketika berputar di atasnya.

Bener gak? Bisa jadi.

Kemudian saya kembali berjalan, tiba-tiba saya lihat ada anak kecil nangis di atas komedi putar. Lho namanya komedi kok malah nangis, kalau nangis kan Tragedi namanya. Eits, jangan-jangan emang itu Tragedi Putar. Lucu juga kan. Abisnya saya pernah dengar kalau komedi memang begitu dekat dengan tragedi, seperti dua sisi keping mata uang. Jadi jangan-jangan, Komedi putar dan Tragedi putar adalah keping mata uang yang sama. Dan supaya wahananya laku, jadi kasih nama Komedi Putar saja.

Waaahhh, perjalanan Ancol saya kali ini pun rasanya jadi lebih filosofis. Sok-sokan mencari filosofi di balik komedi dan tragedi. Lalu sambil naik kora-kora saya berpikir, mengulang semua cerita komedi yang pernah saya tonton. Ternyata saya mendapat pencerahan... Hmmm... Komedi dan Tragedi itu sepertinya cerita yang sama. Kisah tragedi yang kita tertawakan, itulah komedi. Lihat saja Srimulat. Kepeleset, kecolok bolpen, ketahuan kurang ajar sama majikan, tiba-tiba muncul hantu di dalam rumah. Hey! Itu semua tragedi. Bayangkan kalau kejadian itu kamu alami sendiri. Tragedi kan?

Trus kalau mereka sama, berarti nasib orang-orang yang gemar sok melucu keliatan jadi tragis dong? Oh nanti dulu... Ternyata Tragedi dan Komedi itu bisa dibedakan. Kalau menurut film Stranger Than Fiction (2006), beda komedi dan tragedi itu ada pada endingnya. Kalau di Komedi, tokohnya akan dijodohkan. Kalau di tragedi, sang tokoh akan mati. Intinya mah, tergantung endingnya, seneng atau sedih.

Sambil naik tornado saya mulai mereview ulang hidup saya. Kadang ada komedi, kadang ada tragedi. Seperti tornado, kadang diputar, kadang dijatuhin, kadang dinaikin juga. Waaahh, susah ya. Makanya sekarang saya mau berubah. Supaya tidak berakhir jadi tragedi, saya berpikir untuk berusaha membuat ending yang bahagia setiap tragedi datang menghampiri. Cepat-cepat cari celah untuk tertawa setiap ada duka.

Namun membuat ending yang bahagia itu tidak semudah itu. Susah, bener-bener susah. Apalagi kalau datang saat-saat paceklik. Senyum yang sudah saya sunggingkan lebar-lebar, ternyata tidak membuat orang lain ikut tersenyum. Kalimat seperti, "eh kok mukanya pucat banget" atau "Eh kok kamu kurus banget sekarang," bikin suasana hati langsung berubah. Lama-lama bikin gak tahan juga.

Kepala saya mulai berpikir ulang. Wah, kalau gini saya harus keluar dari jeratan dualisme komedi-tragedi nih. Kenapa harus berusaha membuat hidup jadi komedi, kalau efeknya bisa jadi tragedi. Setelah otak panas, akhirnya saya dapat solusi. Satu-satunya cara untuk membuang tragedi adalah dengan mengubah genre hidup saya. Tentunya harus genre yang saya suka. Hmmm... kebetulan saya dari dulu kagum sama Eric Robert, Michael Dudikoff, atau Van Damme. Jadi tanpa pikir panjang, langsung saja saya pilih: ACTION!!

Maka saya langsung ajak teman saya naik ke kombi 6 juta, lalu jalan-jalan keliling pulau Jawa. Ayo kita cari cerita action di hidup kita. Paling seru emang terus petualangan :)


Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one
Anymore
- there's a light that never goes out - the smith -

CRAZY HAPPY PEOPLE

Dua tahun yang lalu saya sempat berpikir, berapa besar penderitaan yang diperlukan orang Indonesia untuk membuat hidup kita lebih kreatif? Saya bukannya bilang orang Indonesia gak kreatif sih, tapi kok "produk" asli Indonesia tidak banyak yang diakui secara global dan mendunia. Deuh bahasanya jadi formal pisan.

Mungkin saya cuma liat hasilnya dalam tataran populer aja ya. Karena "produk" Indonesia paling mendunia saat ini, menurut saya cuma ANGGUN. Selain itu... hmmm, woman trafficking kayaknya. Yah, ini sih ga bisa diitung. Trus kenapa kok cuma Anggun? Padahal kita punya lebih dari 200 juta kepala, dan banyak yang menderita.

Lho, apa hubungannya ama penderitaan?

Begini hubungannya: Saya belajar kalau beberapa pergerakan penting (atau kejeniusan tertentu) kayaknya bermula dari penderitaan. Kalau dulu (orang) Inggris gak depresi, maybe Johnny Rotten won't get pissed, dan gak akan ada Sex Pistol. Mungkin lho.

Atau kalau Amerika gak pernah nekat mengumandangkan perang Vietnam. Mungkin para pemuda gak akan ngamuk disuruh pergi perang, dan mungkin gak akan ada flower generation, atau karya yang lebih idealis buat The Beatles, John Lennon, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, ini cuma mungkin lho.

Yang jelas, saya berpikir penderitaan menciptakan keadaan terdesak, kemarahan, depresi, dan kegilaan. Orang-orang tertentu yang ikut menyaksikan dan merasakan, biasanya ikut-ikutan gila. Lalu mereka menuangkannya dalam suatu bentuk kreatifitas tertentu.

Sebenarnya memang ada Pramoedya Ananta Toer, yang cukup terganggu dengan keadaan bangsa, lalu menulis banyak karya monumental. Atau (buat saya) Djoko Pekik, yang pekik amarahnya mengejawantah jadi lukisan edan. Namun berapa banyak orang-orang seperti mereka di sini? Terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penderitaan yang ada.

Pusing deh kalo dipikirin.

Sampai suatu hari saya berjalan di tengah coakan trotoar jalan dago. Niatnya mau ngeceng di BIP. Cuman gara-gara duit tinggal 2 ribu, saya terpaksa jalan kaki karena uangnya kurang buat naik angkot. Sambil melatih siulan, saya melenggang sambil senyum-senyum sendiri. Namun tiba-tiba di tengah jalan, saya melihat pemandangan yang bikin saya shock. Saya lihat seorang Bapak, sepertinya pemulung, makan dari tempat sampah sebuah rumah gedongan. Maaaakkkk. Ya, mungkin makanan itu belum basi, tapi itu tetap sampah. Saya langsung panik. Kalau saja saya punya uang agak banyak, mungkin bakal saya traktir Bapak itu makan warteg, atau apapun yang dia mau deh. Tapi dasar nasib duit cuma 2 ribu. Dalam kebingungan, saya berikan saja duit itu.

Lalu saya berpikir. Dengan besarnya penderitaan yang dialami Bapak itu, bukankah karya besar seharusnya sudah tercipta dari tangannya? Ah, Bapak itu sudah pusing sama hidupnya, gimana mau bikin karya. Kalau begitu, tanggung jawab itu jatuh ke tangan saya. Saya menyaksikan, merasakan, ikut marah, ikut terganggu. Jadi seharusnya saya bisa bikin karya.

Saya batalkan rencana ngeceng, lalu mulai menulis dalam suasana penuh emosi. Namun setelah mencorat-coret sumpah serapah terhadap masalah bangsa selama 24 jam, ternyata tidak ada tulisan yang tercipta. Kata-kata saya rasanya dihabisi oleh rasa mual yang tidak bisa hilang. Lalu saya kembali berusaha selama sebulan. Tidak juga keluar. Saya bisa memulai kalimat, namun tidak bisa mengakhirinya. Lama-lama, saya mulai kehilangan rasa. Saya pikir, ah kejadian seperti itu pastinya banyak terjadi di sini. Kita ini manusia. Wajar kalo dikasih cobaan sama Tuhan. Kalau kita nrimo, mungkin Tuhan bisa kasih jalan. Menulis kekecewaan itu artinya ngoyo, tidak ikhlas. Tuhan tidak suka. Saya pun berhenti terganggu, dan akibatnya berhenti menulis. Apa yang mau ditulis kalau saya tidak terganggu?

Setelah tidak menulis selama 1 tahun 9 bulan, baru saya mendapat pelajaran dari semua peristiwa itu. Bahwa sepertinya, banyak orang Indonesia, memang tidak mudah menderita (mungkin karena sudah terlalu sering ditekan). Bagitu banyak cobaan sudah terjadi, namun kita masih tenang-tenang saja. Yang terkena bencana diharapkan mengambil hikmah dari setiap ujian. Yang tidak terkena, seperti saya, lama-lama mati rasa juga. Entah malas peduli, atau kebingungan sendiri. Kalau mau prihatin, lebih baik diam dan berdoa. Jangan berani-berani membalas, nanti kamu kena gilas.

Prinsip diam itu yang membuat kita tidak terganggu untuk membuat karya yang menggigit. Seperti nasehat Bapak di kampung dulu, ojo cedak-cedak kebo bupak. Karya kritis seperti yang dibuat Pram bagaikan kebo bupak yang seharusnya dihindari. Lebih baik diam dan berdoa. Kalau pun susah, ya dibuat senang saja. Kalau pun sedih, ya tertawa saja.

We're crazy happy people.

That's it!
When i fall into comberan
my face dirty and blepotan
When i nyangsang di tiang jemuran
never mind because i can gelantungan
Yeyeyeaaah...
I'm superman baby
-superman, benyamin sueb-

SSSTTT... ADA YANG ZZZZ...

Baru-baru ini sms dari teman lama masuk dan berkata, "Kemarin malam saya mimpi kamu mati." Buset! Sekalinya dimimpiin cowok, eh kok malah mimpi meninggal. Bodo ah, cuekin aja.

Begonya, ternyata saya gak bisa bersikap bodo amat. Senang atau tidak sms itu bikin saya mulai bengong lagi. Bukan karena mikir soal mati, tapi karena mimpi. Kenapa ya saya tidak pernah bermimpi?

Memang sih tidur saya amburadul. Kadang kebalik, kadang tepat waktu, kadang kelebihan, kadang pake guling. Tidak pernah sama setiap harinya. Dan mungkin itulah penyebab saya tidak pernah dikasih mimpi. Sedih deh.

Tapi apa bener saya tidak bermimpi?

Pertanyaan saya sedikit terjawab ketika majalah murahan langganan saya datang, kebetulan membahas soal mimpi. Katanya setiap orang bermimpi, tapi tidak semua bisa mengingatnya. Majalah itu juga bercerita tentang bagaimana mimpi muncul. Katanya ia terjadi saat fase REM (Rapid Eye Movement), fase ketika tidur kita memasuki tingkat nyenyak, ditandai dengan gerakan mata yang sangat cepat. Jadi kalau saya ingin dapat mimpi, saya harus tidur nyenyak. Dan ketika mimpi datang, usahakan untuk mengingatnya.

Ck ck ck... tumben majalah saya isinya berbobot, saya jadi bangga.

Saya pun mencoba tidur tepat waktu. Suasana dibuat nyaman, cuci kaki, sikat gigi, moga-moga bisa nyenyak supaya bisa mimpi. Sambil rebahan saya baca lagi artikel di majalah saya, ternyata judulnya: Zzzz. Lucu juga. Simbol "Zzzz" memang sudah disepakati berarti tidur. Kenapa ya? Mungkin karena bunyi orang tidur mirip desis huruf "Z". Tapi tidur tetangga saya bunyinya "Grok". Atau mungkin karena "Z" adalah huruf terakhir dalam alfabet; dan tidur adalah simbolisasi sebuah akhir, mati lebih tepatnya, seperti doa sebelum tidur yang diajarkan Bapak saya ketika saya kecil, "Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan mati."

Ada kata mati pada doa tidur. Apa tidur sama dengan mati? Kalo kata Edgar Allen Poe sih "...those little slices of death..."

Waduh, kalau gitu saya harus bangun! Saya tidak boleh tidur sekarang. Tidak bisa mati dulu karena ada kerjaan belum selesai.
Twelve hours of work and I still can't sleep.
Damn.
Days go on and on.
They don't end.
-travis bickle, taxi driver (1976)-

DI RANJANG KITA MATI

Parjo adalah teman saya yang paling macho. Badannya tegap dan besar. Jago silat. Orangnya juga rada galak. Dia tidak takut apapun. Lebih tepatnya: dia berpikir kalo dia tidak takut apapun. Sampai suatu hari seorang pria datang mencolek pantatnya.

Parjo yang perkasa dibuat kehabisan kata-kata. Dia cuma bisa bengong sambil pelan-pelan menjauhi pria yang mencoleknya. Parjo tidak habis pikir, kok bisa-bisanya dia jadi korban "pelecehan seksual"?

Singkat cerita peristiwa itu langsung jadi buah bibir di sekitar kampung saya. Laki-laki di sini mulai khawatir; takut terlecehkan juga seperti Parjo. Fenomena ini bikin saya berpikir, laki-laki tampaknya memang jarang dihadapkan dengan peristiwa "pelecehan seksual" karena mereka biasanya jadi pelaku. Sebaliknya perempuan... Beuh jangan tanya deh. Pelecehan seksual "ringan", seperti colek atau raba bertebaran di mana-mana, belum goda-goda
yang keluar dari mulut. Jadi pengen muntah deh.


Yah, kami cuma bisa muak dengan perlakuan seperti itu karena sialnya tidak banyak hal berarti yang bisa dilakukan. Yang saya pertanyakan dari dulu, apa gerangan yang ada di kepala para pelaku itu? Apa yang terjadi dalam hidup mereka, sehingga mereka mengeteng seks di jalanan seperti itu?

Berhubung saya ini orang yang mudah terpengaruh oleh film, maka saya coba cari jawaban lewat media itu. Secara sok tahu saya simpulkan, jawabannya mungkin ada di film Crash (1996). Perhatikan tahunnya, bukan film Crash yang menang Oscar lho.

Crash yang saya maksud adalah film bokep garapan sutradara David Cronenberg. Film itu bercerita tentang obsesi manusia yang gemar menabrakkan diri dengan mobil. Sepertinya berharap mati. Anehnya, tokoh dalam film itu tidak juga meregang nyawa. Malahan semakin besar obsesinya untuk mati dalam tabrakan, semakin besar pula kegilaannya terhadap seks. Apa mungkin seks ada kaitannya dengan "keinginan untuk mati" ajaran Freud?

Abisnya, saya pernah dengar kalau ikan Salmon dewasa berenang jauh sekali dari lautan lepas menuju tempat kelahirannya di sungai; hanya untuk melakukan reproduksi. Banyak diantara Salmon itu bahkan mati seminggu setelahnya. Mengapa menghadapi risiko begitu besar hanya untuk seks? Mungkin Salmon itu memang ingin mati.

Semua hal tadi akhirnya membawa saya pada pemikiran baru mengenai para pelaku "pelecehan seksual" di jalanan. Saya jadi berpikir, ternyata itu masalah insting mati mereka yang begitu kuat. Hidup di negara dunia ketiga, serba susah, panas. Bawaannya pengen mati aja. Dan semua itu dilampiaskan pada orang-orang yang kebetulan melintas. Kasihan sekali.

Tapi tunggu dulu...

Setiap makhluk hidup, juga manusia seperti saya punya hasrat seksual yang tidak bisa dilawan. Semua orang punya bayangan tentang ranjang dan apapun yang terjadi di sana. Jadi gimana dong?

Hidup di negara dunia ketiga. Serba susah. Panas. Apa kita ke ranjang saja?
Kami sepasang mayat
ingin kekal berpelukan
dan tidur damai
dalam dekapan ranjang
-ranjang, joko pinurbo-

MAJU KENA, MUNDUR APALAGI

Akhir-akhir ini hidup saya terasa membosankan. Rasanya gak ada kerjaan. Makan gak enak. Kecengan gak punya. Untuk buang-buang waktu, saya coba dengarkan musik. Mulai musik dangdut, disko, sampe disko dangdut saya dengarkan. Tapi sialnya suasana bukannya jadi enak, eh malahan makin butek aja.

Semua gara-gara saya terlalu serius ketika mendengarkan lagu-lagu tadi. Misalnya begini, ketika mendengarkan She's Leaving Home-nya The Beatles, saya langsung buru-buru kabur dari rumah. Ingin seperti perempuan dalam lagu itu. Biar tambah seru saya pindah kota. Berhenti kerja. Cari petualangan baru.

Tapi setelah kabur, saya dengarkan Intastella yang bilang kalo "The past is always better". Sial! Saya jadi terus mengingat apa sudah lewat; semua yang terjadi di belakang. Kok memang tampak lebih indah ya? Meskipun kadang-kadang membosankan, setidaknya dulu saya masih bisa tidur nyenyak. Di petualangan baru ini, boro-boro.

Saya pun jadi terombang-ambing antara bertahan pada petualangan atau kembali ke keadaan semula. Bodoh sekali! Kenapa saya bisa lupa akan pesan Pak Rainer Maria Rilke dalam puisinya. Pak Rilke bilang begini:


(Saya tulis semua ya... Saya suka sich)

Take me by the hand;
it's so easy for you, Angel,
for you are the road
even while being immobile.

You see, I'm scared no one
here will look for me again;
I couldn't make use of
whatever was given,

so they abandoned me.
At first the solitude
charmed me like a prelude,
but so much music wounded me.
- Music, Rainer Maria Rilke -
(Translated by A. Poulin)

Bener juga doski. So much music wounded me. Nyatanya mendengarkan musik memang bikin saya terluka, bukan cuma mental, tapi juga fisik karena gendang telinga saya sudah tidak berfungsi sebelah. Saya putuskan untuk berhenti mendengarkan musik!

Sialnya... Saya tetep kurang kerjaan. Bengong sana. Bengong sini.

Hingga suatu hari pencerahan itu datang. 3 bungkus DVD Heroes tampak teronggok tidak berdaya di bawah rak TV. Tidak lama kemudian, saya sudah nongkrong di depan TV, dan mulai menghabiskan waktu menontonnya. Hari-hari tanpa masa depanku ditemani oleh serial yang sedang laris manis. Betapa romantisnya.

Ajaibnya, episode 18 yang berjudul "Parasites" memberikan jawaban dari semua pertanyaan saya saat ini. Yaitu pada saat Linderman memberi wejangannya di dapur hotel. Dia bilang:

I think there comes a time when a man has to ask him self
weather he wants a life of happiness or a life of meaning?

Two very different paths

To be truly happy,
a man must live absolutely in the present.
No thought of what's gone before,
and no thought of what lies ahead.

But a life of meaning,
a man is condemned to wallow in the past
and obsess about the future.

Saat itu Linderman seperti memaksa saya untuk memilih... a life of happiness atau a life of meaning? Tentu saja saya memilih kehidupan sesaat.


Saya pilih kebahagiaan.

I won't think about tomorrow

Tomorrow never comes

I won't think about the mornings
The mornings spent alone
I only want to be
Taken care of and still be free
- tomorrow never comes, club 8 -

LONCAT-LONCAT

Saya sempat berpikir untuk mengganti tanda tangan. Mau tau kenapa? Saya akan ceritakan kejadiannya dengan peristiwa yang tidak persis sama. Maksudnya supaya terasa fenomenal dan kesannya hidup saya tidak terlalu cupu. Jadi maaf kalau ada pihak yang kurang berkenan karena lagi-lagi saya membual. Begini ceritanya...

Hari itu cuaca agak mendung di Ibukota. Saya sedang asyik menggigit gorengan yang masih mengebul asapnya. Polusi udara Jakarta terasa segar, suasana begitu nyaman. Tiba-tiba seorang Bapak muncul dari sela-sela sebuah gerobak sampah. Dia menunjukkan selembar kertas dan bertanya, "Tanda tangan siapa ini?" Kontan saya berhenti mengunyah karena sadar bahwa itu tanda tangan saya. Saya teriak, "Punya saya," saya jawab sambil memuncratkan tahu isi yang kebetulan masih memenuhi mulut saya. Lalu Bapak itu bilang, "Hidup kamu terlalu seenak udel. Itu tidak baik, apalagi kamu perempuan."Buset tuh orang, hari gini masih bicara soal "perempuan". Menghindari obrolan panjang, saya manggut-manggut saja. Setelah itu si Bapak langsung kembali ke balik gerobak sampah, kemudian berjalan menuju istri dan anaknya dan menghilang di balik tikungan.

Awalnya saya tidak peduli sama sekali dengan Sang Bapak yang misterius, tapi dia bawa-bawa kata "perempuan". Makanya saya jadi bete. Yah, dengan terpaksa saya kembali mereview hidup saya dan berpikir, "Emangnya salah kalo udel saya bebas?"

Masalahnya begini, saya percaya sekali dengan apa yang pernah dikatakan Virginia Woolf. Katanya, It is fatal to be a man or woman pure and simple: one must be a woman manly, or a man womanly. Perempuan yang dulu identik dengan urusan domestik sekarang banyak yang bekerja, yang dulu dianggap wilayah laki-laki. Termasuk saya yang ngantor supaya bisa makan. Sebaliknya, laki-laki yang kesannya dingin, makin dituntut untuk ikut andil dalam wilayah domestik atau setidaknya sedikit punya hati supaya gak kaku-kaku amat. Dengan kata lain, laki-laki sekarang dituntut untuk ikut menjelajahi wilayah perempuan. Jadi aturan pembedaan cowok-cewek kayaknya kok basi banget ya?

Tapi hari itu saya salah karena saya perempuan.

Saya pikir lagi, jangan-jangan emang saya salah. Emang sih hidup saya ternyata tidak punya aturan baku, kecuali prinsip "tidak menyusahkan orang lain" yang selalu saya dewakan selama ini. Lalu kalo saya dituntut jadi istri apalagi ibu, sepertinya bakalan ancur. Waduh, apa emang saya salah? Tapi harus gimana? Mengubah sifat rasanya sulit. Ya sudah saya ganti saja tanda tangan, tampaknya lebih mudah.

Saya langsung meminjam bolpen tukang gorengan dan mulai mereka-reka tanda tangan yang keren, namun tidak berkesan seenak udel. Satu jam. Dua jam. Sepuluh jam. Belum juga ketemu. Tukang gorengan sudah pergi, merelakan bolpennya jadi milik saya. Saya mulai bosan dan hampir menyerah.

Di saat genting seperti itu, seorang perempuan berkacamata datang dan langsung memegang telapak tangan saya. Tak lama kemudian perempuan itu mulai membaca garis tangan saya. Dia bilang, "Kalau kamu sampai menikah, kamu tidak akan menikahi soulmate kamu."

APAAA??? Masa saya harus nikah sama seseorang yang bukan soulmate saya? No way! Ini adalah isu yang lebih penting daripada hidup seenak udel sebagai perempuan. Spontan saya langsung melempar bolpen. Buru-buru cari pinjaman pisau untuk mengubah garis tangan saya.

I am the wind,

I am the sea,
I am the sun
I could be anyone
- use the force, jamiroquai -

KAKAMARAN

Bagi beberapa teman saya, toilet adalah tempat terbaik untuk berkontemplasi ria. Tapi bagi saya, lokasi menarik justru ada di kamar. Tempat saya berbagi segalanya, kecuali uang tentunya.

Menyoroti kamar tentu tidak bisa lepas dari peran kasur yang begitu mulia. Kalau sedih diputus pacar, langsung saja nyungsep ke kasur seperti adegan film '80-an. Di mana lagi bisa segaring itu kalo bukan di kasur. Di mana lagi bisa berbuat yang gila-gila kalo bukan di kamar. Janganlah anda khawatir akan ketahuan karena kasur dan kamar adalah penjaga rahasia terbaik. Itulah sebabnya kamar jadi begitu istimewa bagi saya.

Hingga suatu hari atap kamar saya bocor. Air matanya menetes satu-satu dari plafon. Saya sedih sekali. Eugene, sahabat saya, terus mengingatkan kalau itu air hujan, bukan air mata. Tapi saya keukeuh. Dia tidak mengerti kalau air mata kamar saya adalah pertanda. Dia tidak tahu kalau peristiwa itu membuat kepala saya terus-menerus memutar sebuah film karya Neil Jordan berjudul We're No Angels (1989). Mengganggu sekali.

Kalau kalian menyaksikan We're No Angels, kalian akan melihat adegan patung Bunda Maria menangis. Tetesan airnya sebenarnya berasal dari atap gereja yang bocor, tapi warga menganggapnya sebagai keajaiban, mungkin termasuk saya kalau saya ada di sana. Pembenaran saya: Hei, lagipula kalau pun atap itu bocor, kok bisa pas banget kena ke mata patung Bunda Maria. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?

Memang saya termasuk orang yang percaya tanda-tanda. Bahwa semua kejadian dirancang sedemikian rupa untuk berarti sesuatu. Seperti di film We're No Angels, hal yang sifatnya kebetulan, nyatanya bisa membuat perubahan. Seperti ketika anak Molly yang tiba-tiba bisa bicara karena beberapa kejadian biasa-biasa saja. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?

Mirip dengan kejadian menangisnya kamar saya, tentu saya menganggap hal itu bukan kebetulan semata. Makanya saya tidak mendengarkan kicauan Eugene yang menyuruh saya melupakan semua pertanda, dan menganggap bocornya kamar saya tidak lain hanyalah kebetulan semata. Enak aja tuh kepiting!

Saya percaya ada pesan yang ingin disampaikan kamar saya, entah apa itu.

Lalu saya mulai memperhatikan seluruh kamar. Temboknya sengaja saya cat hitam untuk menampung semua kesedihan saya. Lantainya berantakan dipenuhi kemarahan yang selalu saya buang sembarangan. Seluruh permukaannya kelihatan kumuh akibat keluhan yang selalu saya teriakkan. Kalau dikalimatkan secara kasar: kamar saya adalah tempat sampah saya. Pantas saja dia menangis.

Selanjutnya saya mulai mencari solusi untuk membuat kamar saya berhenti menangis. Apa kamar saya perlu disapu, lalu diceritakan dongeng lucu? Males euy. Atau saya kurangi bebannya dengan tidak menceritakan tetek bengek kahirupan lagi? Waduh, berhenti bercerita pada kamar rasanya seperti melepaskan dinding di kamar itu. Menelanjangi ruang pribadi saya.

Man, membuat kamar saya berhenti menangis ternyata pekerjaan yang sangat berat.

Singkat cerita pagi itu kepala saya jadi pusing. Acara nonton infotainment terganggu karena saya sibuk mencari celah, bagaimana bisa tetap berkeluh kesah tanpa membuat kamar saya bersedih. Saya nyaris buntu. Untung saja siangnya Eugene gatel, lalu naik ke atap. Dari sana saya mengetahui kalau kucing menggeser genteng kamar saya, makanya atapnya jadi bocor. Hmm... rasanya kok logis ya, tidak ada unsur tanda-tanda sama sekali. Mungkin saya memang terlalu berlebihan.

Jadi, itu kebetulan atau bukan? Hayoo...
In Your Room

Where souls disappear
Only you exist here
- in your room, depeche mode -