Archive for 2006

Kakamaran

 Bagi beberapa teman saya, toilet adalah tempat terbaik untuk berkontemplasi ria. Tapi bagi saya, lokasi menarik justru ada di kamar. Tempat saya berbagi segalanya, kecuali uang tentunya.

Menyoroti kamar tentu tidak bisa lepas dari peran kasur yang begitu mulia. Kalau sedih diputus pacar, langsung saja nyungsep ke kasur seperti adegan film '80-an. Di mana lagi bisa segaring itu kalo bukan di kasur. Di mana lagi bisa berbuat yang gila-gila kalo bukan di kamar. Janganlah anda khawatir akan ketahuan karena kasur dan kamar adalah penjaga rahasia terbaik. Itulah sebabnya kamar jadi begitu istimewa bagi saya.

Hingga suatu hari atap kamar saya bocor. Air matanya menetes satu-satu dari plafon. Saya sedih sekali. Eugene, sahabat saya, terus mengingatkan kalau itu air hujan, bukan air mata. Tapi saya keukeuh. Dia tidak mengerti kalau air mata kamar saya adalah pertanda. Dia tidak tahu kalau peristiwa itu membuat kepala saya terus-menerus memutar sebuah film karya Neil Jordan berjudul We're No Angels (1989). Mengganggu sekali.

Kalau kalian menyaksikan We're No Angels, kalian akan melihat adegan patung Bunda Maria menangis. Tetesan airnya sebenarnya berasal dari atap gereja yang bocor, tapi warga menganggapnya sebagai keajaiban, mungkin termasuk saya kalau saya ada di sana. Pembenaran saya: Hei, lagipula kalau pun atap itu bocor, kok bisa pas banget kena ke mata patung Bunda Maria. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?

Memang saya termasuk orang yang percaya tanda-tanda. Bahwa semua kejadian dirancang sedemikian rupa untuk berarti sesuatu. Seperti di film We're No Angels, hal yang sifatnya kebetulan, nyatanya bisa membuat perubahan. Seperti ketika anak Molly yang tiba-tiba bisa bicara karena beberapa kejadian biasa-biasa saja. Hayoo, itu kebetulan atau bukan?
Mirip dengan kejadian menangisnya kamar saya, tentu saya menganggap hal itu bukan kebetulan semata. Makanya saya tidak mendengarkan kicauan Eugene yang menyuruh saya melupakan semua pertanda, dan menganggap bocornya kamar saya tidak lain hanyalah kebetulan semata. Enak aja tuh kepiting!

Saya percaya ada pesan yang ingin disampaikan kamar saya, entah apa itu.

Lalu saya mulai memperhatikan seluruh kamar. Temboknya sengaja saya cat hitam untuk menampung semua kesedihan saya. Lantainya berantakan dipenuhi kemarahan yang selalu saya buang sembarangan. Seluruh permukaannya kelihatan kumuh akibat keluhan yang selalu saya teriakkan. Kalau dikalimatkan secara kasar: kamar saya adalah tempat sampah saya. Pantas saja dia menangis.

Selanjutnya saya mulai mencari solusi untuk membuat kamar saya berhenti menangis. Apa kamar saya perlu disapu, lalu diceritakan dongeng lucu? Males euy. Atau saya kurangi bebannya dengan tidak menceritakan tetek bengek kahirupan lagi? Waduh, berhenti bercerita pada kamar rasanya seperti melepaskan dinding di kamar itu. Menelanjangi ruang pribadi saya.

Man, membuat kamar saya berhenti menangis ternyata pekerjaan yang sangat berat.

Singkat cerita pagi itu kepala saya jadi pusing. Acara nonton infotainment terganggu karena saya sibuk mencari celah, bagaimana bisa tetap berkeluh kesah tanpa membuat kamar saya bersedih. Saya nyaris buntu. Untung saja siangnya Eugene gatel, lalu naik ke atap. Dari sana saya mengetahui kalau kucing menggeser genteng kamar saya, makanya atapnya jadi bocor. Hmm... rasanya kok logis ya, tidak ada unsur tanda-tanda sama sekali. Mungkin saya memang terlalu berlebihan.

Jadi, itu kebetulan atau bukan? Hayoo...


In Your Room
Where souls disappear
Only you exist here
-in your room, depeche mode-




ingin tidur sambil mendengar catatonia meracau...

Words plain with lullaby refrain
So sweet, sleep, enjoy the time you keep
And if you call, I will follow after all,
So sweet, calm will keep us safe from harm.


Everything is beautiful,
everything is beautiful
and nothing hurts

-nothing hurts, catatonia-

Jalan-Jalan Di Rumah

Kenapa ya, kita tidak membedakan kata HOME dan HOUSE? Dalam bahasa Indonesia kita cuma punya satu: RUMAH.

Katanya orang-orang tua sih, "bahasa menunjukan bangsa". Jadi saya pikir, Apa orang Indonesia tidak punya kebutuhan untuk memisahkan kedua hal tadi ya? Kalau mau ditilik-tilik secara bahasa (ceuk saya nu bodo ieu mah) HOUSE berarti bangunan fisik sedangkan HOME adalah perasaan pulang. Kalau kedua kata tadi disatukan dalam RUMAH, berarti saya terpaksa (atau dipaksa) menganggap RUMAH sebagai tempat pulang; tempat perasaan saya disimpan baik-baik. Dan kalau saya gagal punya perasaan itu, I'm in a big trouble.

Mungkin itu alasan orang seperti saya bahagia ketika jalan-jalan. Bukan jalan-jalan a la Discovery Travel and Living lho... Tapi semua jenis jalan-jalan sekampungan apapun. Saya ingat bahagianya saya ketika jalan-jalan, naik ojeg sepeda di Stasiun Kota, bersama si Maemunah. Kami ketawa kegirangan sepanjang jalan, sampai celana Maemunah robek dilempar orang lewat. Yah, ketika saya tidak berhenti jalan, maka ada perasaan rumah yang tidak pernah hilang. Seperti kutipan yang saya temukan di kertas bekas yang kebetulan ada di kamar saya yang berantakan, "The Journey is my home," kata Muriel Rukeyser (entah siapa perempuan bijaksana ini). Semakin jauh saya berjalan, semakin dekat saya dengan perasaan pulang.

Lalu saya mencoba berpikir sok tahu lagi. Mungkin inilah yang membuat beberapa agama di dunia punya konsep perjalanan untuk menyempurnakan ibadahnya. Pilgrim. Berhaji dalam Islam. Dari film Le Grand Voyage (2004) saya dapat informasi kalau dalam haji, naik kapal laut lebih baik daripada naik pesawat terbang; naik mobil lebih baik daripada naik kapal laut; jalan kaki lebih baik daripada naik mobil. Kenapa yang lebih susah dianggap lebih baik?

Mungkin karena perasaan pulang memang tidak mudah ditemukan.
(Man, sayang sekali orang Indonesia hanya punya satu RUMAH)


I travel the world and the seven seas.
Everybody's looking for something.
- sweet dreams (are made of this), eurythmics -

Sunyi, Sepi, Sendiri

The whole conviction of my life rests upon the belief that
loneliness is the central and inevitable fact of human existance
- God's Lonely Man, Thomas Wolfe -

Kesendirian disebut-sebut sebagai eksistensi puncak manusia. Sebuah obsesi. Iya gitu?
Saya jadi ingat seorang teman lama, namanya Dudu. Teman saya itu hanya anak biasa di sekolah, tidak ada yang istimewa. Tampang biasa banget. Olah raga gak bisa. Musik boro-boro. Otak, lumayan. Maksudnya lumayan bodo. Intinya Dudu ini remaja yang dianggap guru tanpa masa depan dan minim harapan. Anehnya, meskipun Dudu biasa keterlaluan, dia ini banyak teman. Maklum orangnya rada bodor garing dan sedikit tidak tahu malu.

Sampai pada suatu sabtu yang cerah di bulan Februari, seorang murid baru datang dari kota, namanya Debo. Dan Dudu jatuh cinta. Dudu bilang, "She's the one. Ilusi yang saya impikan tiap tidur siang."

Berhubung jatuh cinta, Dudu mulai cari jalan untuk mendapatkan perhatian Debo. Dudu pikir kalo dia rada rajin dan pintar, pasti guru mulai suka sama dia, temen-temen makin dekat, dan Debo bisa takluk. Mulailah Dudu bikin resolusi: dia harus jadi nomor satu. Dudu membayangkan kalo dia pandai, Debo mau minta bantuan sedikit-sedikit, lalu tambah dekat, dan kepincut juga. Tapi sayang sekali skenario Dudu berantakan.

Karena kelewat serius dengan sekolahnya, obsesi Dudu bergeser. Niat mengejar Debo berubah menjadi obsesi khas murid teladan. Target bulan Maret: terpilih jadi wakil olimpiade berhitung. Target April: juara lomba baca puisi. Mei: murid berbakat tingkat nasional. Dan seterusnya, dan seterusnya. Dudu sibuk, disayang guru, dan mulai ditinggalkan teman-temannya. Sedangkan Deborah akhirnya jadian sama Roi si pemain basket. Dudu cemburu, dan merasa kesepian.
Dudu teman saya itu akhirnya mengalami apa yang sering diteriakkan mp3player saya, langsung dari tenggorokan Aimee Mann, "One is the loneliest number that you'll ever do!"

Nah lo...

Sekarang, mari kita tarik kesimpulan dari contoh kejadian tidak penting tadi. Dudu yang akhirnya jadi nomor satu, berakhir kesepian. Padahal banyak orang berobsesi jadi nomor satu, senggol kanan kiri, colek depan belakang. Apa itu berarti mereka berebut cari sepi? Mungkin.


Baik, kita cari diri sendiri
ke guha-guha sunyi
- walau saya jauh, laode pesu aftarudin -

Hari ini saya mulai
Mulai apa?
Besok-besok saja kalau begitu
Tunggu ya!

"Mendadak Dangdut", tolong ceriakan hidupku esok hari

Blogroll

siapa dimana

apa?!