Demi Mimpi

Saya merasa hidup jadi orang yang realistis. Kadang-kadang hal itu terpaksa mengikis banyak mimpi. Ketika mimpi saya melipir pergi, saya punya pembenaran paling mujarab hasil wejangan film The Guru: mimpi itu nggak nyata, cuma terjadi pas kita lagi tidur.

Namun saya punya teman yang teguh bermimpi sambil melek. Mimpi dia adalah: bikin film.

Bagi saya pribadi film adalah barang yang aneh. Saya amat sangat suka menikmati film, namun saya sering menganggap film sebagai produk yang angkuh. Saya kerap berpikir bahwa film adalah karya yang terlalu mahal untuk dinikmati penghargaannya oleh segelintir orang saja.

Saya sedih sekali pernah melihat kru-kru film yang sedih merasa tidak dihargai. Lebih sedih lagi ketika saya melihat sutradara mengambil seluruh kredit, seolah film dibuat sendirian. Ada cast & crew yang penting, namun lebih banyak lagi yang dianggap tidak penting. Padahal film dibuat dari hasil kerja keras banyak orang.

Itulah yang membuat saya agak takut untuk mencicipi membuat film.

Nah... teman saya yang bermimpi bikin film tadi ternyata agak lain. Meskipun dia kurang sensitif sama urusan pasangan, namun dia ternyata sangat sensitif sama urusan kemanusiaan. Wadaw kemanusiaan, hehe... Saya menyebutnya kemanusiaan karena dalam membuat film dia amat sangat memikirkan sekali bagaimana baiknya memberikan penghargaan materi dan (yang lebih penting) bagaimana seharusnya memberikan perlakukan yang baik. Istilah yang dia sebutkan adalah "tumbuh bersama".

Teman saya itu sudah dua kali membuat film. Yang pertama amatir. Yang kedua... menurutnya tetap amatir. Bagi saya... "amatir" karena penuh cinta.

Tanggal 22 Desember 2011 lewat, film kedua teman saya itu soft launching di layar tancap gang sesama dekat kebon binatang. Berada di sana rasa membahagiakan. Ketulusan benar-benar ada di sekitar. Saya bukan hanya menikmati filmnya yang jujur, namun juga suasananya yang hangat. Dan angetnya bukan semata-mata karena pelukan kelinci lho... Tapi beneran saya terharu menyaksikan bagaimana casts & crews & friends saling dihargai dan menghargai. Beginilah seharusnya sebuah film dibuat.

Saya berpikir...
Kalaupun ada orang yang layak menerima penghargaan atas sebuah film, itu adalah orang yang membuat film seperti cara teman saya itu. Dan kalaupun ada film yang layak menerima dukungan, itu adalah film yang dibuat seperti cara teman saya membuatnya.

Kebetulan sekarang ini, teman saya itu sedang mencari dukungan 10 ribu co-produser demi kelangsungan film keduanya itu. Jadi... ayo kita dukung filmnya.
DEMI UCOK - a film by cast and crew
written and directed by Sammaria Simanjuntak.

http://www.demiapa.com/demiucok/id/10000copro

Filmnya mengingatkan saya kembali, alasan kenapa film harus dibuat.

kru dan pemain Demi Ucok copas dari FB, minus Jihan trus siapa lagi?


Seseram-seramnya ibukota, lebih seram mimpi sendiri
-gloria sinaga, demi ucok-